150 Da’i Muda Dibekali Strategi Dakwah Islam Cinta Di Media Digital

# Dilihat: 331 pengunjung
  • Bagikan

Jakarta — Gerakan Islam Cinta (GIC) – “Para Da’i Muda hendaknya dapat berdakwah
kepada masyarakat sesuai dengan zamannya”.

Demikian ungkapan Profesor Jamhari
Makruf dalam pembukaan Webinar Series Akademi Digital untuk Da’i Muda, Rabu 15 September 2021.

Profesor Jamhari menjelaskan menjadi pendakwah sekarang ini memiliki tantangan yang kompleks, mereka dituntut bukan hanya memiliki kemampuan berdakwah di masyarakat secara luring (luar jaringan) tetapi juga dapat memiliki kemampuan berdakwah secara daring (dalam jaringan), terlebih di masa pandemi Covid-19.

Namun, meningkatnya konektivitas dunia digital justru semakin memperburuk permasalahan ekstremisme kekerasan. Kondisi ini juga diperkuat dengan temuan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta yang mencatat 67,2% isu mengenai konservatisme menguasai perbincangan di dunia maya selama satu dekade terakhir.

Sementara, Profesor Oman Fathurahman yang menjadi narasumber di sesi pertama
mengingatkan para Da’i Muda akan esensi dari ajaran Rasulullah Saw yang penuh cinta
dan kasih sayang, “Rasul bukan hanya memberi kasih sayang secukupnya, tetapi rauf arrahim, memberi lebih dari secukupnya”. Tegasnya.

Sejalan dengan Profesor Oman, Sakdiyah Ma’ruf yang di kenal sebagai Stand Up Komedian Muslimah memberikan tips agar para Da’i Muda yang concern berdakwah di media digital dapat menyajikan konten humor, hal ini bertujuan agar dapat menarik perhatian para netizen, sebagaimana tradisi humor dalam dakwah Nabi dan sahabatnya.

Di sesi ketiga, Haidar Bagir menegaskan Tuhannya Islam adalah Tuhan Kasih Sayang yang menyatakan bahwa Kasih Sayang-Nya meliputi apa saja, dan menundukkan murka-Nya, begitupun Nabinya Islam adalah nabi yang disebut Tuhan sebagai berakhlak agung
karena cinta dan kasih-sayangnya kepada manusia.

Maka, para ahli bahkan menyatakan
bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia itu karena cinta dan agar mereka
belajar mencintai-Nya, dan mencintai-Nya, seperti diungkap dalam berbagai ajaran-Nya
dan ajaran Nabi-Nya, hanya mungkin diwujudkan kedalam kecintaan kepada manusia, makhluk-Nya.

Ingat, dakwah itu butuh empati, memenangkan hati manusia itu butuh kelemahlembutan. Tegas Haidar Bagir pada Webinar series Akademi Digital untuk Da’i Muda ini di tutup dengan sesi Irfan Amalee yang menyatakan bahwa kondisi umat Islam sekarang mengingatkan kita pada hadis Nabi Saw, bahwa pada suatu masa nanti, umat Islam akan banyak jumlahnya, tapi hanya
bagaikan buih lautan yang hilang di terpa angin.

Muslim tak lagi memiliki kewibawaan,
kini tak lagi ditakuti musuh-musuhnya. Kita tak dapat menyangkal Islam diidentikkan
dengan kebodohan, kekumuhan, dan kekerasan—bahkan dianggap penyebar teror.

Lebih lanjut Irfan menjelaskan betapa semua itu jauh dari citra Islam Nabi Saw yang
membawa kedamaian. Tak heran, di tangan Nabi Saw dan para sahabatnya, Islam
berkembang seantero dunia, hidup dan bertumbuh memengaruhi peradaban dunia
sehingga bekasnya dapat dirasakan sampai sekarang.

Di tangan Wali Songo dan para ulama penerus syiarnya, Islam pun tertancap kukuh di bumi Nusantara. Jelas Irfan.

Ketua Gerakan Islam Cinta, Eddy Aqdhiwijaya mengungkapkan bahwa Webinar Series ini
merupakan salah satu tahap seleksi peserta Akademi Digital untuk Da’i Muda 2021,
mereka yang lulus di tahap ini berkewajiban mengikuti kegiatan webinar bersama para
Tokoh dan Cendekiawan.

Eddy juga menjelaskan yang melatarbelakangi program Akademi Digital untuk Da’i Muda ini diselenggarakan, para Da’i Muda yang seharusnya menjadi aktor berpengaruh dalam diseminasi pesan keagamaan moderat nyatanya masih terkendala dengan berbagai kemampuan teknis ketika dihadapkan dengan media digital. Kemampuan seperti digital storytelling, social media management, data analysis, dan copywriting menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

Padahal kemampuan teknis tersebut, penting
untuk mempengaruhi narasi di media digital. Namun meskipun begitu, tidak banyak
platform pengembangan diri yang tersedia untuk membantu Da’i Muda dapat menguasai kemampuan tersebut. Ungkap Eddy.

Untuk itu, GIC melakukan creative collaboration dengan PeaceGen, PPIM UIN Jakarta dan Merit Indonesia dalam menyelenggarakan Akademi Digital untuk Da’i Muda 2021, kegiatan ini memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 30 Dai Muda selama dua minggu bersama tim ahli.

Mereka akan menjalani serangkaian petualangan untuk memahami masalah, merancang solusi, dan membekali diri dengan seperangkat keterampilan untuk dapat menggunakan, menganalisis, dan memproduksi pesan di media digital dengan lebih baik. Jelas Eddy.(*)

  • Bagikan