Guru Honorer Keluhkan Nasibnya ke DPRD Kota Bandarlampung

# Dilihat: 71 pengunjung
  • Bagikan

BANDARLAMPUNG — Sejumlah guru honorer di Bandarlampung mengeluhkan insentif yang hingga kini belum diterima ke Anggota DPRD Kota Bandar Lampung.

Hal itu diutarakan oleh beberapa perwakilan guru honorer saat Anggota DPRD Kota Bandar Lampung kembali melakukan kegiatan reses dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat.

Salah satu peserta reses juga menyampaikan bahwa honor guru sekolah negeri sudah dikeluarkan sampai dengan April tahun ini tetapi nilainya tidak sama, yang seharusnya Rp1.200.000/bulan tenyata dibayarkan hanya Rp600.000/bulan dengan menggunakan dana BOS.

“Saya menerima keluhan ada guru honor yang belum menerima hak mereka. Adapun haknya berupa insentif dari kota Bandar Lampung pada tahun 2020. Padahal ini sangat membantu para guru honorer tersebut dapat ditunaikan saat ini juga,” kata Yuni, Sabtu, (24/4/2021).

Dalam kegiatan tersebut, Yuni Karnelis anggota DPRD dari daerah pemilihan (dapil) I yang meliputi Teluk Betung Utara, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Timur menerima keluhan dari guru honor terkait belum keluarnya insentif mereka.

Yuni Karnelis menerima keluhan perihal guru honorer yang belum menerima insentif guru honor.

Dimana nilai honor tersebut, senilai Rp300 ribu perbulan dan dibayarkan setiap semester. Dan dana tersebut belum dicairkan Juli-Desember 2020. Padahal sudah dijanjikan oleh walikota terdahulu akan dicairkan sebelum pilwakot 2020.

Yuni meminta Pemerintah Kota untuk menyegerakan membayar insentif para guru honor yang tergabung dalam persatuan guru honor murni (PGHM) dan menindak tegas kepala sekolah kepala sekolah yang memberikan gaji honor guru-guru dengan menyunat gaji honor guru-guru honor sekolah negeri yang menggunakan dana BOS.

Yuni berharap pemerintah Kota dengan Dinas Pendidikan bisa menyelesaikan hal-hal diatas. Apalagi di masa pandemi ini terasa sekali efeknya terhadap semua profesi pekerjaan.

Di bidang pendidikan efek yang terkena terutama guru swasta maupun guru honorer di sekolah negeri.

Efek pertama adalah saat ini banyak guru-guru di sekolah swasta maupun guru honorer yang terdampak Covid-19 secara langsung pada sisi ekonomi.

Efek kedua, bahwa guru-guru di sekolah swasta konsep honorariumnya, berdasarkan jumlah jam mengajar yang nominalnya sangat kecil sekali.

Belum lagi pembelajaran yang dilakukan secara dalam jaringan (daring) yang diberikan kepada para siswa dan guru-guru dirasa sangat memberatkan.

Hal ini dikarenakan, antara siswa dan guru saling ketergantungan dengan kuota internet. Yang terkadang tetap saja guru-guru ini mengeluarkan dana dari kantong sendiri.

“Perlu kiranya disiapkan anggaran untuk jaringan pengaman sosial, bagi segmen guru seperti ini. Termasuk akan pentingnya paket sembako, yang disiapkan oleh Satuan Tugas Covid 19 untuk guru-guru yang terdampak,” pungkas Yuni.(*)

  • Bagikan