ITERA Akan Dirikan Prodi Teknologi Kosmetik Pertama di Indonesia

90

LAMPUNGSELATAN — Institut Teknologi Sumatera (ITERA) akan mendirikan Program Studi (Prodi) Teknologi Kosmetik pertama di Indonesia. Prodi tersebut didirikan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya ahli di bidang industri kosmetik yang jadi salah satu sektor industri andalan nasional.

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia baru memiliki 630 UMKM kosmetik. Jumlah tersebut jauh dibanding Thailand yang telah memiliki lebih dari 5.000 UMKM kosmetik. Dengan munculnya sumber daya ahli di bidang kosmetik, dan dengan dukungan teknologi diharapkan mampu mendorong perkembangan industri kosmetik tanah air.

Hal tersebut menjadi topik bahasan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) pendirian Prodi Teknologi Kosemtik ITERA, yang diadakan di Gedung Kuliah Umum ITERA, Rabu (18/12/2019). Kegiatan tersebut melibatkan multi stakeholder, mulai dari pakar kosmetik, akademisi, pengusaha industri kosmetik nasional, hingga pemerintahan.

Hadir sebagai narasumber Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM RI Dr. Arustyono, Apt,MPH, dan CEO PT Paragon Technology and Innovation yang menaungi brand Wardah, Nurhayati Subakat, Apt. Sementara menjadi pembahas Kepala Dinas Perindustrian Lampung Drs.Bayana, M.Si. dan Profesor Farmasi ITB, Prof. Dr. Sasanti Tarini, M.Si.

Rektor ITERA Prof.Ir. Ofyar Z Tamin, M.Sc.Ph.D. menyebut, latarbelakang ITERA mendirikan Prodi Teknologi Kosmetik adalah karena kebutuhan SDM ahli di bidang industri kosmetik.Untuk itu, tugas ITERA adalah memenuhi kebutuhan SDM yang nantinya mampu bekerja dan dapat mengembangkan indsutri kosmetik di masa depan.

“Kegiatan FGD ini untuk menampung masukan berbagai stakeholder, guna merumuskan kurikulum yang sesuai sehingga lulusan prodi ini nantinya mempunyai kompetensi sesuai kebutuhan,” ujar Rektor. Rektor juga menyampaikan prodi ini, diharapkan sudah memperoleh izin di tahun 2020.

Narasumber FGD Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM RI Dr. Arustyono, Apt,MPH, menyampaikan BPOM mendukung pendirian Prodi Teknologi Kosmetik di ITERA.

Sebab, menurut Arustyono semakin banyak tenaga ahli di bidang kosmetik, maka akan mendorong perkembangan peningkatan industri kosmetik lokal.

Arusyanto, memaparkan selama 2018, Badan POM menemukan sebanyak 126 milyar (77%)kosmetik ilegal.

Di Jakarta ditemukan berton-ton bahan baku kosmetik mengandung bahan berbahaya seperti Hg (merkuri), dan pada 2019 ditemukan 4 industri kosmetik ilegal di Kalideres, senilai 30M.

“Jika semakin banyak tenaga ahli kosmetik, maka akan mendorong peningkatan industri kosmetik yang aman, sehat dan resmi. Peran perguruan tinggi sangat besar dalam menciptakan dan meningkatkan SDM ahli,”ujar Arustyono.

Sementara Komisaris Utama PT Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat menyebut industri kosmetik lokal harus mampu bersaing dengan industri multinasional yang selama ini menguasai pasar kosmetik Indonesia. Sehingga dibutuhkan SDM ahli mulai dari ahli bahan baku, produksi , distribusi, konsumen.

“Kita harus bisa membuat dobrakan, seperti Thailand sudah ada 5000 industri kosmetik, dan Korea 90% menggunakan produk lokal. Sehingga masyarakat juga perlu diedukasi agar memakai produk Indonesia,”ujar Nurhayati.

Kepala Dinas Perindustrian Lampung, Drs.Bayana, M.Si. menyampaikan, pemerintah provinsi Lampung mendukung dan mengapresiasi ITERA yang akan mendirikan Prodi Teknologi Kosmetik pertama di Indonesia.

Bayana meyakini, dengan dihasilkannya SDM yang mumpuni akan mendorong perkembangan industri kosmetik, baik di tingkat daerah, hingga nasional sehingga mampu bersaing dengan produk luar negeri.

“Khsusu di Lampung industri ini dapat berkembang, terlebih dengan infrastruktur yang semakin baik, dan SDM yang dibekali pengetahuan dan teknologi,” ujar Bayana. (*)

Komentar