Melawan Kejahatan Anak Melalui Forum Anak

# Dilihat: 106 pengunjung
  • Bagikan
Direktur Lembaga Pemerhati Hak Perempaun Dan Anak (LPHPA) Lampung Toni Fisher, saat hadir di acara Pembekalan Pemilihan Duta Anak Kabupaten Tanggamus, Senin, 24 Mei 2021

BANDARLAMPUNG — Sudah terlalu banyak kekerasan terhadap anak dan kasat mata di lingkungan kita serta mencuat hampir setiap hari di media.

Ini merupakan acaman serius terhadap kelangsungan masa depan bangsa mengingat 1 dari 3 penduduk Lampung adalah anak.

Kasus-kasus pelanggaran hak anak yaitu hak hidup, tumbuh, dan berkembang. Terlebih setelah memasuki masa pandemic Covid-19 semakin meningkat mulai dari pencabulan anak, perdagangan anak, pekerja anak, Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA), korban tindak kekerasan orang tua atau lingkungannya, perkawinan anak dan pelanggaran lain terhadap hak anak.

Menanggapi semakin dahsyatnya gelombang kasus-kasus kejahatan terhadap anak, Direktur Lembaga Pemerhati Hak Perempaun Dan Anak (LPHPA) Lampung Toni Fisher, setelah memberikan pembekalan kepada peserta Pemilihan Duta Anak Kabupaten Tanggamus, Selasa (25 Mei 2021), ketika dimintai pandangannya menekankan bahwa pemerintah tidak bisa kerja sendiri-sendiri dan parsial karena masalah anak ini kompleks.

“Coba kita cermati, sudah 31 tahun meratifikasi Konvensi Hak Anak dengan Kepres 36 Tahu 1990 dan telah 18 tahun menjalankan Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan perubahannya No. 35 tahun 2014, kasus-kasus tersebut semakin meningkat dan sulit ditangani” ujar Toni.

Toni juga menerangkan, buktinya, dalam kurun waktu 4 bulan dari Januari sd April 2021, KPAI mencatat angka TPPO dan Eksploitasi melalui prostitusi pada anak belum menunjukkan penurunan. Dari 35 kasus yang dimonitor KPAI, 83% merupakan kasus prostitusi, 11% eksploitasi ekonomi dan 6% perdagangan anak.

Dari kasus-kasus tersebut jumlah korban mencapai 234 anak. Selain itu kasus pekerja anak di pabrik, hingga penjualan bayi. Kasus-kasus tersebut yang terpantau KPAI, sementara yang tidak terpantau bisa jadi jauh lebih banyak.

Artinya, semakin banyak pihak yang peduli dan aktif serta terintegrasi melakukan pencegahan, penanganan, dan restorasi tentu akan semakin lebih baik.

Namun, fakta menunjukkan, alih-alih kerja sama yang baik dan saling mendukung antar lembaga pemerintah dan antar lembaga masyarakat serta pemerintah dengan masyarakat, tidak jarang terjadi saling curiga bahkan konflik baik internal maupun dengan eksternal mereka. Semoga tidak menjadi preseden buruk bagi anak!

Di akhir tanggapannya, Toni berharap dengan hadirnya duta-duta anak seperti di Tanggamus ini, Forum Anak sebagai wadah partisipasi mereka dapat meningkatkan peran anak sebagai pelopor dan pelapor sehingga kasus-kasus kejahatan anak dapat dicegah dan cepat ditangani oleh para pihak.(*)

  • Bagikan