Mendadak Menjadi Komentator Politik

96
Oleh : Deni Haddad (Ketua Bidang Pemuda Bravo5 Provinsi Lampung)

LAMPUNG — Tahun 2020 merupakan tahun politik bagi daerah, di Lampung ada 8 kabupaten/kota yang melakukan pemilihan kepala daerah, walaupun masih lama di bulan September nanti, namun mulai sekarang sudah terlihat riuh dukung mendukung bagi bakal calon yang dijagokan dalam kontestasi tersebut.

Dukung mendukung di alam demokrasi itu syah-syah saja, namun adab dan etika tentu diutamakan, sportitvitas dijunjung tinggi agar menghasilkan kualitas pemimpin yang mumpuni.

Jika tiba-tiba di daerah yang melakukan pesta demokrasj tersebut banyak pengamat politik bermunculan diruang dan waktu bicara tak cuma di media mainstream tapi banyak juga di media sosial, itu sah-sah saja, karena kebebasan berpendapat dijamin UUD.

Yang menjadi tak elok ketika komentator tidak mengikuti kaidah ilmiah dalam berbicara, misal ; berbicara tanpa dasar, berbicara seakan-akan punya dasar, berbicara dengan dasar yang salah, serta bicara dengan data yang kurang accountable dan verificable.

Untuk berbicara tanpa dasar ini yang paling banyak ditemukan dalam media sosial, sebab hanya sekedar mengomentari situasi politik layaknya ibu-ibu, emak-emak, umi, bunda dan entah apalagi sebutan lainnya sedang mengomentari sinetron percintaan.

Untuk berbicara seakan-akan punya dasar dapat dicontohkan seperti orang yang tidak berani mempertanggung jawabkan omongannya sendiri, misal mengutip kalimat orang lain dengan modal copy paste saja.

Sementara untuk bicara dengan dasar yang salah, dapat dicontohkan seseorang yang agak pinteran dikitlah, seperti mengambil landasan teori dari bahan pembicaraan bahasan di media, contoh
Mr. X : Kepala Daerah itu melakukan korupsi, sementara Mr. Y : Ah yang benar, kata siapa lu?? Mr. X : baca di media. Mr. Y : ahh media abal-abal dipercaya, bego lu! Menjudge berita dari media yang belum tentu benar dan belum tentu juga salah, apalagi pemberitaannya tak berimbang membuatnya tidak bisa dijadikan landasan teori perdebatan.

Dan untuk bicara dengan data yang tidak accountable dan verificable, contoh percakapan
Mr. X : saya yakin partai x, y, dan z menjadi pengusung bacalon tersebut.
Mr. Y : Masak Sih?
Mr. X : Ga Percaya.
Mr. Y : Iya Ga Percaya
Mr. X : Liat Aja Sendiri Nanti
Mr. Y : Hahaha…
Mr. X : Nah Ga Percaya Juga, Liat Aja, Yaa Sudah Percaya Saja.
Mr. Y : Ini orang ngasih info maksa-maksa lagi untuk sekedar orang lain percaya dengan informasinya. Busyet Dah!!

Kesimpulannya Lets Be Smart, kalau mau sekedar komen politik, mari belajar politik terlebih dahulu dan kalau sekedar asal komen mari nonton sinetron saja, jangan tiba-tiba mendadak menjadi komentator politik.

Menjadi seorang buzzer atau cuma pendukung bacalon tak perlu juga menanggalkan budaya kearifan lokal, eweuh pakeweuh itu kadang penting dalam hal ini, tapi di satu sisi aroma demokrasi sudah nampak, menjadi hal positif bagi rakyat netizen bahwa mereka lebih kritis, lebih peduli dan lebih menginginkan calon pemimpin mereka nanti pemimpin yang berkualitas.

Tapi kaedah dan cara-cara berdemokrasi yang benar tetap dijunjung tinggi, jangan sampai sekedar ikut-ikutan yang kejuntrungan cuma menjadi alat pemuas kekuasaan saja, sudah calonnya berkuasa malah ditinggal begitu saja, hal itu membuat sedih, melebihi sedihnya nonton film india saja. Tabik!!!.

Penulis: Deni Haddad
(Ketua Bidang Pemuda Bravo5 Provinsi Lampung)

Komentar