RD Philipus Suroyo : Dulu Berjuang Melawan Penjajah, Kini Berjuang melawan sifat buruk

381
Ketua Komisi Kerasulan Awam dan Komisi Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) Keuskupan Tanjung Karang, RD Philipus Suroyo (kedua dari kanan) foto bersama Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo,usai mengikuti upacara peringatan HUT RI ke-73, yang berlangsung di Lapangan Korpri, kompleks perkantoran Gubernur Lampung, Jumat (17/8).

BANDARLAMPUNG,SS — Pesta kemerdekaan hari ulang tahun Republik Indonesia yang kita peringati setiap 17 Agustus menjadi pesta syukur bersama atas perjuangan para pahlawan pendahulu kita. Perayaan kemerdekaan merupakan pesta syukur atas pembebasan dari penjajahan.

Hal itu diungkapkan, Ketua Komisi Kerasulan Awam dan Komisi Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) Keuskupan Tanjung Karang, RD Philipus Suroyo, usai mengikuti upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan dan pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka peringatan HUT RI ke-73, yang berlangsung di Lapangan Korpri, kompleks perkantoran Gubernur Lampung, Jumat (17/8).

Dalam upacara tersebut, Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo bertindak sebagai inspektur.

Menurut Romo Roy (sapaan akrab RD Philipus Suroyo), sebagai warga negara sekaligus warga gereja, perayaan kemerdekaan adalah pesta iman.

“Kemerdekaan merupakan anugerah Tuhan yang diperjuangan para pendahulu sampai berdarah-darah. Tapi yang mendasar bagi kita, ini adalah pesta syukur atas hadiah yang diberikan kepada bangsa kita Indonesia, Negara kita menjadi bangsa merdeka dan bermartabat, ”katanya.

Ia menuturkan, melalui Komisi Kerasulan Awam dan Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) Keuskupan Tanjungkarang ini, pesan yang terkandung dalam peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia adalah rasa syukur.

“Kita mau mengungkapkan iman kita pada Allah. Kemerdekaan yang memberikan pada Bangsa Indonesia adalah pemenuhan janji Tuhan. Dia tidak pernah melewatkan dan mencapakkan orang-orang yang teraniaya, ”ungkapnya.

Ia juga menegaskan, dengan iman semakin kokoh, membuat kita mencintai Negara, Sehingga tercipta kerukunan. NKRI itu sudah final, harga mati.

Sekarang bagaimana mungkin kita tinggal memaknai atau mengisinya dengan hal-hal baik dan positif yang sifatnya membangun.

Dulu sebelum Indonesia merdeka, kita melawan penjajah sampai berdarah-darah, tapi sekarang kita melawan diri sendiri.

Keserakahan, egoisme, amarah, ketamakan, kerakusan adalah musibah yang terberat kita sekarang ini. Maka kita harus berjuang melawan sifat-sifat buruk dalam diri kita itu.

Jika dalam diri ada sifat iri, dengki, tamak, dan semua penyakit hati lainnya, itu tandanya kita belum merdeka.

Pertama-tama yang harus kita lakukan
untuk membebaskan diri dari sifat-sifat tersebut dalam hal membayar kebebasan ini ialah kita bisa menjadi manusia baik. Tidak menguasai tapi melayani, tidak melawan kekerasan dengan kekerasan, tapi dengan kelemah-lembutan.

Selamat hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-73. Sesuai dengan amanat Mgr Sugijopranoto SJ, yang juga merupakan pahlawan Nasional, kita harus menjadi Katolik 100% dan Indonesia 100%, tidak bisa kurang atau lebih.

Perlu diketahui, turut hadir dalam upacara peringatan HUT Proklamasi ke-73, di Lapangan Korpri, Ketua Presidium WKRI DPD Lampung Ellysabet Sri Puryani. (*)

Komentar