Unila Selenggarakan Pengukuhan 15 Guru Besar, Raih Rekor Muri

# Dilihat: 336 pengunjung
  • Bagikan

BANDARLAMPUNG — Universitas Lampung menyelenggarakan Pengukuhan 15 Guru Besar Universitas Lampung (Unila), Rabu (22/9/2021), di GSG Unila sebagai pengukuhan guru besar terbanyak.

Pengukuhan tersebut mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

“Pengukuhan 15 guru besar Unila hari ini, kami catat sebagai prestasi superlatif di MURI, Perguruan Tinggi dengan pengukuhan guru besar terbanyak,” ujar Senior Manager Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI), Awam Rahargo.

Dia mengatakan, Unila berhasil melampaui rekor sebelumnya yang diraih oleh UIN Bandung.

Dengan penambahan Rekor MURI hari ini, lanjutnya, maka Unila telah mencatat 6 Rekor MURI, dimana 5 Rekor MURI sebelumnya telah diraih oleh Fakultas Pertanian Unila.

“Sejauh ini Unila telah mencatat rekor keenam kali, dan diharapkan dalam waktu dekat akan ada pencapaian rekor ketujuh, kedelapan, dan seterusnya. Pencatatan rekor ini semata-mata ingin membuktikan bahwa Unila memiliki potensi-potensi akademik dan non akademik, sekurang kurangnya itu bisa menjadi semangat atau motivasi bagi universitas lain, ” tuturnya.

Awam mengatakan, profesor atau guru besar adalah jabatan fungsional tertinggi bagi kualifikasi akademik doktor. Perguruan tinggi di Indonesia, idealnya memiliki 20% guru besar dari total dosen yang ada di perguruan tinggi tersebut.

“Namun, hal tersebut belum tercapai oleh semua perguruan tinggi di Indonesia. Untuk itu desain percepatan guru besar diperlukan, seperti yang dilakukan Unila,” tuturnya.

Percepatan guru besar tidaklah mudah, lanjut Awam, sebab selain dosen wajib melaksanakan tridarma perguruan tinggi berupa pengajaran, penelitian, dan pengandian kepada masyarakat, dosen harus berjenjang akademik doktor, serta mampu mempublikasikan penelitiannya di jurnal-jurnal internasional terindeks scopus.

“Selain itu, dosen juga harus mengumpulkan angka kredit 850 point,” ujar Awam.

Unila, dalam hal ini, lanjutnya, telah berhasil melakukan percepatan capaian atau perolehan guru besar bagi para dosennya. Terbukti pada hari ini, dikukuhkannya 15 guru besar dari berbagai fakultas.

“Diharapkan Unila.akan semakin mendekati ke posisi ideal rasio guru besarnya,” katanya.

Sementara, Rektor Unila, Prof. Karomani mengatakan, hari ini Unila berhasil memecahkan rekor MURI untuk pengukuhan guru besar terbanyak di Indonesia. Pengukuhan 15 profesor pada saat bersamaan juga merupakan hal pertama kali dalam sejarah Unila.

Bahkan, ujar Karomani, selama 5 tahun terakhir, pertambahan jumlah profesor di Unila cenderung lambat. Pada 2017, Unila hanya menambah 5 orang guru besar, diikuti tahun berikutnya sebanyak 1 orang.

“Karenanya, begitu dilantik menjadi Rektor Unila Periode 2019-2023 pada November 2019, saya berkomitmen untuk terus mendorong program percepatan guru besar di Unila. Komitmen ini terbukti dengan mencatatkan capaian luar biasa selama dua tahun berikutnya yakni 8 orang pada tahun 2020 dan 8 orang pada tahun 2021,” kata Karomani.

Karomani berharap, pengukuhan 15 Guru Besar hari ini dapat menginspirasi para akademisi yang lain untuk segera menjadi guru besar.

“Dengan banyaknya Lektor Kepala yang kita miliki, artinya kita punya potensi untuk menambah guru besar dalam jumlah yang cukup besar. Insyaallah, pada 2022 saya akan mengukuhkan sekaligus 20 guru besar, saya akan mengundang Pak Awam kembali,” ujar Karomani.

Dengan dikukuhkannya 15 guru besar baru pada hari ini, lanjutnya, berarti Unila memiliki tambahan SDM yang secara kapasitas sudah sangat teruji keilmuannya. Hal ini, tentunya akan membuat keberadaan Unila semakin diakui oleh masyarakat dan dunia. Sebab, jabatan guru besar menunjukkan pengakuan akan kompetensi dibidang akademik.

“Dengan demikian, semakin banyak guru besar yang dikukuhkan menunjukkan bahwa semakin banyak pakar yang kita miliki. Ini tentunya akan berdampak pada penilaian terhadap Unila yang semakin baik,” tuturnya.

Prof. Einde Evana yang baru dikukuhkan sebagai guru besar ilmu Akuntansi mengatakan sangat senang dengan capaian gelar akademik tertinggi yang dia raih hari ini.

“Senang, Alhamdulillah dinaikkam derajatnya sama Allah, Alhamdulillah dikasih rezekinya,” ujar Prof. Einde.

Menurut dia, perjuangan dan perjalanan panjangnya meraih gelar guru besar akhirnya terwujud berkat dukungan istri, keluarga, dekan, dan rektor Unila.

“Benar-benar setengah mati mbak, semuanya itu ridho Allah. Dukungan dari institusi, jurusan, fakultas, rektor, teman-teman, keluarga, itu luarbiasa,” tuturnya.

Tantangan terberat mencapai gelar guru besar ini, kata Einde, adalah membuat publikasi ilmiah yang mampu menembus jurnal internasional yang terindeks scopus kualitas 1 dan 2 .

“Menembus jurnal internasional scopus kualitas 1 dan 2 ini setengah mati beratnya, jadi kalau hari ini ada 15 guru besar yang dikukuhkan, itu good!” pungkasnya.

Prosesi pengukuhan 15 guru besar Unila berjalan dengan khidmat. Dihadiri oleh seluruh anggota senat dan anggota keluarga para guru besar.

Setiap guru besar membacakan orasi ilmiahnya di depan anggota senat dan tamu undangan yang hadir di GSG Unila.

Berikut 15 Guru Besar Unila yang dikukuhkan dan judul orasi ilmiah yang mereka bacakan :

1. Prof. Yuliansyah, S.E., M.S.A, Ph.D., Akt., CA., dengan orasi ilmiah berjudul “Sistem Pengukuran Kinerja Strategik Perguruan Tinggi dengan Konsep Malcolm Baldrige”.

2. Prof. Dr. Nurdiono S.E., M.M., Akt., CA., C.P.A berjudul “Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sebuah Kesenjangan Harapan”.

3. Prof. Dr. Drs. Hartoyo, M.Si., berjudul “Strategi Mengelola Harmoni Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Lokal Multikultural di Pedesaan Lampung”.

4. Dr. Undang Rosidin, M.Pd., berjudul “Penilaian Autentik untuk Memetakan Kompetensi Hardskills dan Softskills Peserta Didik”.

5. Dr. Mahrinasari M.S., S.E., M.Sc., dengan judul “Keunggulan Bersaing Industri Kreatif Indonesia: Suatu Tantangan dan Harapan dalam Menghadapi Pandemi Covid 19”.

6. Prof. Ir. Christine Wulandari, M.P., Ph.D., berjudul “Social Learning sebagai Strategi Implementasi “New Era Perhutanan Sosial” Pasca Undang-Undang Cipta Kerja”.

7. Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc., dengan judul “Embriogenesis Somatik untuk Perbanyakan dan Produksi Benih Tanaman Unggul”.

8. Dr. Toto Gunarto, S.E., M.Si., dengan judul “Intensitas Energi Sektor Industri di Indonesia”.

9. Dr. Drs. Sugiyanto, M.T., berjudul “Peningkatan Kompetensi Profesional Berkelanjutan Dosen Vokasi Melalui Diklat”.

10. Prof. Mohammad Badaruddin, S.T., M.T., Ph.D., berjudul “Kriteria Desain Aman Baja Aisi 1018 Kondisi Tarik Dingin pada Suhu Tinggi”.

11. Prof. Dr. Hamzah, S.H., M.H., berjudul “Perlindungan Konsumen di indonesia dengan Mekanisme Asuransi Tanggung Jawab Produk (Product Liability Insurance)”.

12. Prof. Dr. Einde Evana, S.E., M.Si., Akt, dengan judul “Pengujian Teori Fraud Pentagon pada Sektor Manufaktur Di Indonesia”.

13. Prof. Dr. Joni Agustian, S.T., M.Sc., berjudul “Sakarifikasi Enzimatis Pati Tapioka dengan Glukoamilasi Amobil pada Penyangga Silika Mcf-(9.2t-3d)”.

14. Prof. Dr. Sunyono, M.Si., berjduul “Eksplorasi – Imajinasi pada Model Pembelajaran Simayang untuk Membelajarkan Kimia di Sekolah”.

15. Prof. Dr. La Zakaria, S. Si., M.Sc., berjudul “Peluang Menghilirkan Matematika Melalui Riset Matematika: Studi Kasus Matematika Komputasi pada Desain Motif Batik Fraktal dan Kriptografi Citra”.(*)

  • Bagikan