Tingginya Angka Perkawinan Anak di Lampung, Perkumpulan Damar Gelar Youth for Equality Camp

BANDARLAMPUNG, SURYASUMATERA.COM – Tingginya angka perkawinan anak yang ada di Provinsi Lampung, menjadi latarbelakang kegiatan Youth for Equality Camp Provinsi Lampung, ‎bertema “Remaja Pelopor, Pelapor dan Konselor Sebaya untuk Lampung Aman, Setara dan Bebas Kekerasan”, yang digelar Perkumpulan Damar Lampung.

Perkumpulan Damar Lampung Gelar Youth for Equality Camp, di Wira Garden, 24-25 Oktober 2026

‎Kegiatan diikuti sebanyak 90 remaja dari 5 Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, berlangsung di Wira Garden Bandar Lampung, 24-25 Oktober 2026.

‎Adapun tujuannya ialah meningkatkan kapasitas, keberanian dan partisipasi bermakna remaja di Provinsi Lampung agar mampu menjadi Pelopor, Pelapor dan memiliki kapasitas dasar sebagai Konselor Sebaya dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta pencegahan perkawinan anak.

Direktur Eksekutif Perkumpulan Damar Lampung, Afrintina menyampaikan, peserta yang hadir diharapkan bisa menjadi konselor sebaya ketika nanti mereka berada di lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat.

“Supaya mereka bisa menjadi konselor sebaya ketika nanti mereka berada di lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat. Latar belakang kegiatan ini karena tingginya angka perkawinan anak yang ada di Provinsi Lampung ini juga cukup mengkhawatirkan, sehingga kami penting untuk melakukan pendidikan kepada mereka supaya terhindar dari perkawinan anak,” ujarnya.

Arfintina menambahkan, disesi acara peserta mendeklarasikan Komitmennya. Deklarasi itu adalah suatu action plan yang nantinya isinya adalah action plan mereka, yang mereka susun sendiri yang kemudian menjadi komitmen mereka untuk menjalankan kerja-kerja pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk juga perkawinan anak yang nanti ketika mereka berada di lingkungan masing-masing, mereka akan implementasikan itu.

Pesannya untuk seluruh anak Indonesia, terutama anak yang ada di Provinsi Lampung, untuk tidak melakukan perkawinan kurang dari 19 tahun atau perkawinan anak, karena dampaknya sangat besar sekali, sangat banyak, dan tentunya itu sangat merugikan bagi anak-anak remaja perempuan terutama, misalnya soal kesehatan reproduksinya yang masih belum siap, soal psikologisnya yang belum siap.

Kemudian juga harus dihadapkan dengan situasi perkawinan di mana mereka harus memikirkan anak yang nanti dikandung dari dirinya sendiri. Sehingga ini menjadi perhatian yang harus kita perhatikan bahwa dampaknya itu cukup besar dan sangat berisiko kepada anak remaja perempuan kita sendiri.

Afrintina menjelaskan, tingkat perkawinan anak sangat tinggi, yang paling tinggi dari tahun 2023, kemudian mulai di 2024 itu mulai sedikit ada penurunan, dan terakhir kemarin kami mendata di 2025 juga ada penurunan.

Tetapi angka penurunan ini bukan berarti tercatatnya itu turun, tetapi lebih ke mereka melakukan pernikahan secara tidak tercatat, karena prosedur yang juga sangat rumit sehingga mereka melakukan pernikahan tidak diajukan dispensasi kawin di pengadilan.

Sementara itu, Ratna Bilqis, salah satu peserta dari SMAN 1 Terusan Nunyai, mengapresiasi dan membagikan pengalaman berharganya selama mengikuti serangkaian kegiatan edukatif yang diselenggarakan Perkumpulan DAMAR Lampung. Melalui program-program tersebut, para peserta mendapatkan wawasan mendalam mengenai isu-isu penting yang sering kali tabu dibicarakan di kalangan remaja.

“Disini saya mendapatkan pengalaman dari kegiatan Damar ini, salah satunya sex education, pernikahan anak dibawah 19 tahun, dan juga cara kita untuk merawat alat reproduksi kita. Nah setelah itu kami dibimbing oleh pihak DAMAR untuk pembuatan video edukasi, dan melakukan program-program selanjutnya,” tutup Bilqis.

Seedbacklink