Perekonomian Lampung pada Triwulan II 2026 tetap tumbuh tinggi dengan pertumbuhan
sebesar 5,29% (yoy), meski sedikit melambat jika dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,58% (yoy). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp147,91 triliun, sementara atas dasar harga konstan tahun 2010 mencapai
Rp80,07 triliun. Kinerja tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatra yang tercatat sebesar 5,06% (yoy), dan sama dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang juga sebesar 5,29% (yoy).
Kinerja perekonomian Lampung yang tetap tinggi pada Triwulan II 2026 tercermin dari
pertumbuhan sejumlah Lapangan Usaha (LU) utama, terutama LU Industri Pengolahan, LU
Perdagangan Besar dan Eceran, serta LU Konstruksi yang masing-masing tumbuh sebesar 6,99% (yoy), 7,98% (yoy), dan 6,57% (yoy).
Akselerasi LU Industri Pengolahan didorong oleh penguatan industri makanan, diantaranya pengolahan gula, jagung, dan tapioka. Kinerja industri gula meningkat sejalan
dengan dimulainya musim tebang dan giling tebu 2026 yang diawali pada April 2026, sehingga mendorong peningkatan output industri makanan di Lampung. Industri pengolahan juga ditopang oleh panen raya
jagung serentak di Lampung yang diawali pada Mei 2026, serta ekspansi pengolahan singkong di Lampung yang berkontribusi 70% dari total produksi nasional.
Sementara itu, LU Perdagangan menguat sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri dan tetap kuatnya permintaan rumah tangga, sedangkan LU Konstruksi ditopang oleh berlanjutnya proyek pemerintah dan swasta, termasuk percepatan
pencapaian target Jalan Mantap dan telah selesainya pembangunan 631 unit KDKMP. LU Transportasi dan Pergudangan serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga tumbuh masing-masing 5,16% (yoy) dan 5,96% (yoy), didukung peningkatan mobilitas dan aktivitas masyarakat selama HBKN Iduladha.
Di sisi lain, LU Pertanian mengalami perlambatan seiring normalisasi produksi tanaman padi pascaberakhirnya panen raya pada triwulan sebelumnya. Meskipun demikian, perlambatan tersebut tertahan oleh dimulainya musim tebang dan giling tebu pada triwulan berjalan.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Lampung yang tetap tinggi pada Triwulan II
2026 terutama ditopang oleh kinerja Konsumsi Rumah Tangga. Konsumsi Rumah Tangga tumbuh
sebesar 4,86% (yoy), didorong oleh peningkatan konsumsi pada kelompok makanan dan minuman, perumahan, rekreasi, serta barang pribadi. Perkembangan tersebut juga didukung oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha pada Triwulan II 2026. Selain itu, kinerja Ekspor turut menopang pertumbuhan ekonomi dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,12% (yoy), sejalan dengan peningkatan ekspor komoditas hasil penggilingan serta
bahan bakar mineral dari Provinsi Lampung.
Sementara itu, Konsumsi Pemerintah tumbuh tinggi 12,80% (yoy) sejalan dengan meningkatnya realisasi program pemerintah, termasuk belanja pemerintah dalam
biaya operasional dan inventaris KDKMP. Investasi tetap kuat meskipun melambat, terutama akibat penurunan investasi nonbangunan (seperti pembelian kendaraan untuk perdagangan), sementara investasi bangunan tetap meningkat didukung pembangunan jalan, 631 unit KDKMP, dan berbagai proyek swasta.
Bank Indonesia memandang kinerja perekonomian Provinsi Lampung pada 2026 tetap solid, meskipun sejumlah risiko perlu terus dicermati. Pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 diprakirakan berada pada kisaran 5,0–5,6%, ditopang oleh tetap kuatnya permintaan domestik serta terjaganya permintaan eksternal. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan diprakirakan didukung oleh kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan seiring berlanjutnya program peningkatan
produktivitas pangan, serta LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan Besar dan Eceran yang ditopang oleh penguatan hilirisasi, permintaan domestik, dan aktivitas perdagangan. Kinerja LU Konstruksi juga diprakirakan tetap positif sejalan dengan berlanjutnya pembangunan proyek pemerintah dan swasta.
Ke depan, risiko yang perlu dicermati terutama bersumber dari ketidakpastian global, gangguan cuaca, serta volatilitas harga pangan dan komoditas.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung akan terus memperkuat sinergi
dengan Pemerintah Daerah dan seluruh pemangku kepentingan melalui tiga strategi utama.
Pertama, penguatan sektor primer dan stabilisasi harga melalui peningkatan produktivitas pertanian, penguatan rantai pasok hulu hingga hilir komoditas strategis, serta optimalisasi sinergi TPID dan GPIPS.
Kedua, peningkatan nilai tambah dan investasi sektor berdaya ungkit tinggi melalui penguatan hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan UMKM berorientasi ekspor, serta promosi proyek investasi potensial melalui IPRO. Ketiga, percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah melalui penguatan ETPD dan perluasan transaksi nontunai guna meningkatkan efisiensi serta mendukung optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).(*)






