Suryasumatera.com — Embung Umbul Niti adalah waduk buatan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Saat ini, kondisi embung mengalami kerusakan parah akibat tanggulnya jebol sejak Maret 2026, yang membuat pasokan air irigasi ke lahan pertanian warga terhenti dan terancam gagal panen.
Dari pantauan Surya Sumatera pada Kamis 6 Agustus 2026, embung yang tadinya menampung air, sudah kosong, sehingga dasarnya dimanfaatkan oleh petani setempat untuk menanam padi. Kebun petani banyak mengalami kekeringan, akibat kurangnya pasokan air.
Embung yang selama ini menjadi sumber utama irigasi bagi petani, kini tidak lagi mampu mengalirkan air ke sawah dan ladang.

Di sisi lain, Embung Umbul Niti juga memiliki wajah yang berbeda bagi masyarakat. Lokasinya yang tidak jauh dari Pasar Jatimulyo membuat embung ini mudah dijangkau warga. Persediaan ikan yang melimpah menjadikan Embung Umbul Niti sebagai salah satu spot memancing favorit di Kecamatan Jati Agung. Setiap sore hingga akhir pekan, banyak warga datang untuk memancing.
Namun, di balik fungsi rekreasinya, embung ini menjadi sumber kehidupan bagi ratusan petani yang menggantungkan pasokan air untuk sawah dan ladang mereka.
Tusiman, petani di Dusun 1, Desa Jatimulyo, mengatakan seluruh lahan yang ia garap bergantung pada pasokan air dari Embung Umbul Niti. Sejak tanggul embung jebol, tanaman kacang panjang miliknya perlahan mengering dan kini terancam gagal panen.
“Sejak 6 Maret 2026. Banjir-banjir itu kan akhir tahun. Debit airnya gede, pintunya nggak dibuka, jadi jebol. Semenjak itu kekeringan,” kata Tusiman dilansir dari Krakatau.id, Kamis (6/8/2026).
Menurut Tusiman, kerusakan embung langsung memukul hasil pertanian warga.
“Dampaknya ya banyak. Tanaman pada gagal semua. Kayak kacang ini gagal panen.”
Ia mengatakan pemerintah desa sudah beberapa kali meninjau lokasi. Aparat RT, kepala dusun hingga perangkat desa datang melihat langsung kondisi lahan pertanian.
“Perangkat desa semua datang. RT, Kadus, lurah sudah datang.”
Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum juga telah mengecek kondisi embung. Namun hingga kini, para petani belum melihat adanya perbaikan.
“Dinas PU juga sudah datang. Tapi sementara ini belum ada penanganan.”
Tanpa saluran irigasi, Tusiman kini hanya menggantungkan harapan pada hujan.
“Sekarang mengandalkan air tadah hujan. Nggak ada hujan selama ini.”
Ia berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul embung agar air kembali mengalir ke lahan pertanian.
“Harapannya pemerintah cepat membenahi embung itu.”
Ratusan petani bergantung pada Embung Umbul Niti
Menurut Tusiman, Embung Umbul Niti tidak hanya mengairi lahannya. Banyak petani di Desa Jatimulyo juga memanfaatkan embung itu sebagai sumber irigasi utama.
Ia memperkirakan aliran air dari embung menjangkau hamparan lahan hingga sekitar dua kilometer.
“Yang mengandalkan embung ini banyak. Dari embung sampai sana mungkin ada dua kilometer.”
Putusnya aliran irigasi membuat petani kesulitan mempertahankan tanaman yang sudah memasuki masa pertumbuhan. Jika hujan tidak segera turun dan pemerintah belum memperbaiki embung, risiko gagal panen diperkirakan akan semakin meluas.
Kini, Embung Umbul Niti tidak lagi hanya menjadi tempat warga memancing. Embung itu berubah menjadi simbol harapan para petani agar pemerintah segera memperbaiki tanggulnya sehingga air kembali mengalir dan musim tanam berikutnya tidak kembali berakhir dengan gagal panen.***
#umbulniti #mancingliar #spotmancing #lampungselatan #jatiagung #jatimulyo






