Design Disinfeksi Moda Transportasi Komoditi Palm Kernel Expeller (PKE)

Penulis : Hilmans Oktaviansyah, S.T.P
Program Studi : Program Profesi Insinyur
Universitas Lampung

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah salah satu penyakit viral yang bersifat akut, sangat menular pada ternak (hewan berkuku belah), terutama sapi, kerbau, kambing, domba, babi, rusa, kijang, onta dan gajah. Ancaman global yang parah saat ini dan akan terus berlanjut (>100 negara, 77% populasi ternak dunia masih tertular).

Hal tersebut dapat menyebabkan dampak ekonomi, social dan lingkungan yang menghancurkan, karena kerugian produktivitas, gangguan dalam kegiatan pertanian, peternakan, industry dan social, ancaman utama terhadap suplai pangan (food supply) dan ketahanan pangan (food security). (Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung, 2022).

Di wilayah Lampung terdapat beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industry kelapa sawit dan turunannya (Palm Kernel Expeller) yang merupakan salah satu bahan baku untuk pakan hewan ternak sapi. PKE di ekspor ke berbagai negara seperti Australia dan New Zealand untuk memenuhi konsumsi pakan ternak sapi di negara tersebut. Dengan adanya virus PMK dapat menghambat ekspor ke negara tersebut yang dikhawatirkan bisa membawa virus melalui moda transportasi maupun komoditas ke negara tujuannya.

Rumusan Masalah
Bagaimana cara mencegah penularan virus PMK ?

Tujuan Penelitian
Untuk mencegah penularan virus PMK dengan memperhatikan aspek lingkungan.

PEMBAHASAN
Karakter virus PMK yaitu sensitive terhadap pH asam atau basa (aktif pada pH 6-9, inaktif pada pH <6 atau >9), sensitive terhadap panas (virus mati pada suhu > 50 ℃) dan virus mati pada proses high temperature pasteurisation. (Mielke S.R, 2019). Virus PMK mampu bertahan di lingkungan untuk jangka waktu lama jika kondisi sesuai (sumber Bartley et.al.,2002; Cottral, 1969), meskipun temperature tinggi (> 50 ℃), ekstremitas pH (9,0) dan kelembaban relative rendah.

Terdapat tiga prinsip dasar cara pengendalian virus PMK yaitu 1. Mencegah kontak antar hewan peka dan virus PMK, 2. Menghentikan produksi virus PMK oleh hewan tertular, 3. Meningkatkan resistensi/kekebalan pada hewan. Penerapan untuk pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara tindakan karantina dan penawasan lalu lintas, menghilangkan sumber infeksi, sanitasi disinfeksi dekontaminasi kendang, peralatan, kendaraan dan bahan-bahan lainnya, membentuk kekebalan pada hewan peka dengan vaksinasi.

Salah satu cara mencegah penularan virus PMK adalah dengan meminimalkan lalu lintas ternak dan kendaraan pembawa pakan yang esensial untuk melanjutkan operasi di peternakan dikarenakan PMK sangat menular dan virus dapat dibawa ke dalam peternakan oleh pakaian orang atau ban dan roda kendaraan. Setiap kendaraan yang memasuki peternakan, ban, roda dan bagian di bawah kendaraan disemprot dengan disinfektans sebelum masuk dan sekali lagi saat meninggalkan peternakan.

Memiliki fasilitas dan peralatan yang tersedia untuk mendisinfeksi kendaraan (mesin bertekanan tinggi, sikat, selang, air dan disinfeksi yang efektif). Disinfektan yang disarankan untuk perlakuan pencegahan virus PMK adalah Citric acid 3% (30 gr dalam 1 liter air) dan atau Sodium hypochlorite 0,3% (3000 ppm available chlorine).

sumber:prevention practices for Foot and Mouth Fisease (FMD). The Center for Food Security and Public Health, Lowa State University.
Pentingnya peralatan sesuai standar (memiliki mesin bertekanan tinggi, selang, air dan system pengelolaan sisa air disinfektan) untuk pelaksanaan disinfeksi kendaraan penganggkut Palm Kernel Expeller (PKE) yang akan di ekspor ke Negara tujuan.

Hal ini perlu diterapkan agar keberlangsungan suplai pakan ternak tetap terjaga untuk keberlangsungan perekonomian dengan memperhatikan aspek pengelolaan lingkungan dari kegiatan disinfeksi tersebut dengan cara membuat modifikasi alat disinfeksi yang tersambung langsung dengan system penampungan pengelolaan sisa air disinfektan. Sistem pengelolaan ini dibuat untuk mencegah sisa air disinfektan mencemari lingkungan sekitar perlakuan disinfeksi.

KESIMPULAN
Pencegahan virus PMK dapat dilaksanakan dengan cara perlakuan disinfeksi menggunakan alat mesin power sprayer yang sudah di design untuk pada moda transportasi truk pengangkut Palm Kernel Expeller (PKE) menggunakan disinfektan dengan bahan aktif Citric acid 3% dan atau Sodium hypochlorite 0,3% sesuai dosis yang ditetapkan. Perlakuan disinfeksi ini harus memperhatikan aspek lingkungan agar sisa air disinfeksi dapat dikelola dengan sebaik-baiknya menggunakan system pengelolaan penampungan.

Daftar pustaka
Preventation practice for Foot and Mouth Fisease (FMD). The Center for Food Security and Public Health, Lowa State University.

Mielke S.R. (2019), Environmental Persistence of Foot and Mouth Diseases Virus and the Impact on Transmission Cycles in Endemic Regions, The Ohio State University.

Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung (2022), Bandar Lampung, Provinsi Lampung

LAMPIRAN

Gambar 1. Design Proses Disinfeksi dan Pengelolaan Air Sisa Disinfektan

Seedbacklink