Disabilitas Fisik Ini Mampu Ciptakan Karya Seni Kerajinan Furniture yang Mewah

SURYASUMATERA.COM — LAMPUNG SELATAN — Namanya GUNADI, atau mas Nadi sapaan akrabnya, ia berprofesi sebagai tukang kayu, yang mampu menyulap potongan kayu-kayu besar menjadi sebuah meja, kursi maupun furniture lainnya, menjadi barang mewah melalui sentuhan tangan dan keterampilan yang dimilikinya.

Keinginannya menjadi seorang tukang kayu yang profesional, bukan mudah, tetapi melalui proses yang cukup berat dan memakan waktu panjang.

Meski memiliki kekurangan fisik, ketiadaan kaki sebelah kiri, yang ia alami sejak lahir. Namun hal itu sama sekali tidak mengurangi semangatnya mengejar apa yang ia inginkan.

Furniture meja buatan Gunadi
Furniture meja buatan Gunadi

Warga Dusun Batu Ceper, Branti Raya, Lampung Selatan itu, nekat pergi seorang diri tanpa ditemani siapa pun ke Jepara. Ia merantau bukan tanpa tujuan, tetapi untuk belajar kerajinan furnitur langsung dari pusatnya. Keputusan itu ia ambil dengan satu keyakinan sederhana, hidup harus diperjuangkan, bahkan ketika keadaan tidak sepenuhnya berpihak.

Lima belas tahun lalu, Nadi mulai memahami satu hal penting tentang dirinya. Keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti bergerak atau bergantung pada orang lain. Ia memilih jalan yang lebih sunyi, lebih berat, tetapi juga lebih bermakna, jalan untuk berdiri di atas kemampuannya sendiri.

Di sudut teras rumah, tongkat penyangga bersandar tanpa banyak bicara. Di tangannya, sebatang rokok kretek perlahan habis terbakar. Sesekali ia menyeruput kopi hitam, menatap permukaan kayu di depannya. Ada jeda singkat sebelum tangannya kembali bekerja.

Begitulah cara lelaki yang akrab dipanggil Nadi itu mengatur napasnya. Ia tidak banyak bicara, tetapi pekerjaannya seperti berbicara untuknya. Di hadapannya, dua meja kayu setengah jadi menunggu disentuh kembali. Dengan ujung jari, ia meraba bagian yang belum rata.

Tak banyak yang tahu, untuk sampai pada titik itu, Nadi harus menempuh cara yang tidak biasa. Ia terbiasa mengendarai motor gigi, bukan karena pilihan paling nyaman, melainkan karena keadaan. Setiap kali berkendara, tangannya mengambil alih peran yang semestinya dilakukan kaki, memindahkan gigi, menjaga keseimbangan, sekaligus menyesuaikan laju di jalan.

Perjalanan baginya bukan sekadar berpindah tempat dari satu titik ke titik lain. Ada usaha yang tidak terlihat, ada keberanian yang jarang diperhitungkan. Setiap kilometer yang ia tempuh adalah bentuk lain dari keteguhan, cara diam-diam untuk menaklukkan keterbatasan, demi mencari nafkah.

Nadi bekerja sebagai pekerja lepas, menerima berbagai panggilan finishing produk kayu. Mulai dari meja, kusen pintu, lemari, hingga meja makan, semuanya pernah ia tangani. Ia juga memiliki workshop kecil di rumahnya untuk mengerjakan pekerjaan yang memungkinkan diselesaikan dari sana.

Di teras rumah pelanggan, ia mulai bekerja. Baginya, pekerjaan tidak menunggu tempat yang sempurna. Selama ada kayu yang perlu diselesaikan, di situlah ia berada. Di situlah tenaga dan keahliannya digunakan.

Pada tahap finishing, Nadi memiliki pemahaman yang tidak dimiliki semua orang. Ia mengenali karakter jenis kayu, memahami komposisinya, dan tahu cara menyesuaikannya dengan kebutuhan. Setiap sentuhan bukan sekadar pekerjaan teknis. Ada rasa, ada pengalaman yang ikut bekerja.

Teknik semprot yang ia gunakan bukan hanya untuk melapisi permukaan kayu. Dari tangannya, warna mulai hidup dan serat kayu perlahan muncul ke permukaan. Kayu yang awalnya biasa saja berubah menjadi lebih bernilai, lebih halus, lebih rapi, dan berkilau seperti kaca.

Pria kelahiran 1987 ini telah hidup dengan disabilitas sejak lahir. Langkahnya tidak pernah benar-benar ringan seperti kebanyakan orang. Namun yang menonjol darinya bukan keterbatasan itu, melainkan kemauan untuk terus bekerja tanpa banyak mengeluh.

Sekitar lima belas tahun lalu, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia pergi dari Lampung menuju Jepara seorang diri. Kota yang dikenal sebagai pusat kerajinan kayu itu menjadi tempatnya belajar, tempat ia menempa kemampuan di dunia perkayuan dari nol.

Ia tidak datang untuk mencari belas kasihan dari siapa pun. Ia datang dengan satu tujuan yang jelas, yaitu belajar. Di sana ia mengenali arah serat kayu, memahami sifat material, dan mengasah ketelitian. Ia belajar bahwa hasil yang baik tidak pernah lahir dari proses yang instan.
Pengalaman panjang itulah yang membentuknya hingga hari ini.

Setiap pekerjaan ia lakukan dengan cara yang sama, melihat sebelum menyentuh. Ia memeriksa setiap detail, meraba bagian kecil yang sering terlewat, lalu perlahan menyempurnakan hasilnya.

Tidak ada gerakan tergesa dalam pekerjaannya. Tidak ada hasil yang sekadar selesai tanpa kualitas. Baginya, setiap pekerjaan membawa nama baik. Keahlian itu tidak datang dalam semalam. Ia lahir dari proses panjang yang penuh pengulangan dan kesabaran, dari kegagalan yang diperbaiki, dari kesalahan yang dipelajari, dan dari keteguhan untuk terus berjalan meski keadaan tidak selalu mudah.

Nadi tidak meminta dikasihani oleh siapa pun. Ia memilih berdiri dengan kemampuannya sendiri. Setiap hasil kerja adalah bukti bahwa ia mampu, bahwa keterbatasan tidak pernah benar-benar menghentikannya.

Di balik setiap meja yang selesai, ada tenaga yang tidak sedikit. Di balik kusen pintu yang rapi, ada ketelitian yang panjang. Di balik lemari dan meja makan yang mengilap, ada tanggung jawab yang ikut melekat. Ada keluarga yang menunggu di rumah.

Kerja keras itu yang membuatnya terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari satu panggilan ke panggilan berikutnya. Ia tidak menunggu pekerjaan datang dengan mudah. Ia yang mendatangi pekerjaan itu.

Di tengah kehidupan yang sering membuat orang cepat menyerah, Nadi memilih bertahan. Ia tidak banyak bicara tentang hidupnya. Namun dari tangannya, orang bisa melihat ketekunan. Dari pekerjaannya, orang bisa melihat kegigihan.

Di saat banyak orang menunggu keadaan berubah, Nadi justru memilih bergerak lebih dulu. Ia tidak menunggu hidup menjadi mudah. Ia yang membuat hidupnya perlahan berubah, dengan cara yang ia mampu.

Dari Nadi, kita belajar satu hal, kerja keras tidak menunggu tubuh yang sempurna, ia hanya butuh kemauan yang tak mau berhenti, keberanian menantang keterbatasan, dan keyakinan untuk terus melangkah, apa pun keadaannya. (*/Ih)

Seedbacklink