Lampung Tuan Rumah RATNAS Inkopdit Tahun Buku 2024, Usung Tema Koperasi Membangun Dunia Lebih Baik

Suryasumatera.com –Bandarlampung — Provinsi Lampung menjadi tuan rumah pada penyelenggaraan Rapat Anggota Tahunan Nasional (RATNAS) Inkopdit Tahun Buku 2024, yang digelar di Hotel Grand Marcure, Kamis 26 Juni 2025.

RAT dilaksanakan untuk memenuhi kewajiban organisasi
sebagai Koperasi Sekunder Tingkat Nasional, Induk Koperasi Kredit Indonesia (INKOPDIT).

Dalam rangkaian acara itu juga dirangkai dengan kegiatan Open Forum, Breakout Seminar, Promosi Credit Union & Wisata, Pameran Hasil Usaha Anggota, serta
Festival Budaya.

Perlu Diketahui, INKOPDIT yang berpusat di Jakarta, berfungsi sebagai pusat layanan keuangan nasional untuk melayani Puskopdit (Pusat Koperasi Kredit) di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah mengembangkan Koperasi Kredit di Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga memiliki jaringan usaha koperasi kredit yang kuat, sehat, dan mandiri. 

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, melalui Staf ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Ir. Zainal Abidin MT, dalam sambutannya di acara tersebut menyampaikan, tema “Koperasi Membangun Dunia Lebih Baik” ini sangat relevan dengan pergerakan pemerintah.

Tema ini bukan hanya sekadar harapan, tapi sekaligus menjadi seruan bagi kita untuk menjadikan koperasi sebagai pilar penting dalam menciptakan keadilan ekonomi, kemandirian masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan.

“Kami mengajak semuanya pihak termasuk Inkopdit untuk bersinergi dengan pemerintah membangun koperasi yang modern, profesional dan berorientasi pada kesejahteraan anggota dengan semangat gotong royong, kolaborasi dan inovasi,” ujarnya.

Ketua Puskopdit Caraka Utama, Andreas Muhi Pukai, menyampaikan,
Kegiatan di Lampung ini adalah bagian dari persiapan pelaksanaan RAT (Rapat Anggota Tahunan) yang akan diadakan pada tanggal 29 Juni 2025.

Acara ini berlangsung sekitar 5 hari, diikuti 600 peserta, dengan agenda seminar, workshop, kunjungan lapangan, dan diskusi untuk berbagi praktik baik di antara peserta dari seluruh Indonesia, dari primer, puskopdit, berupa pengurus, pengawas ataupun manajemen.

Peserta dibagi ke dalam berbagai kelas, seperti kelas anak muda, pengurus, dan manajemen, untuk mendapatkan materi yang berbeda.

Pada rangkaian acara seminar, menghadirkan narasumber-narasumber yang levelnya pasti nasional maupun dunia, ada yang dari Kanada, dan dari Jepang.

Selain itu, rangkaian acara lainnya yaitu peserta juga akan mengunjungi delapan koperasi primer di Lampung dan berpartisipasi dalam kegiatan wisata untuk mendukung ekonomi lokal.

“Pada acara ini peserta diingatkan bahwa biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung oleh koperasi, yang dananya berasal dari masyarakat, sehingga diminta harus serius mengikuti semua rangkaian acara, dan mendapatkan ilmu untuk diterapkan di koperasinya Masing-masing,” ujar Andreas.

Andre menambahkan,
Lampung dipilih sebagai lokasi karena kini memiliki fasilitas yang memadai untuk acara besar ini.

“Tahun ini Lampung siap jadi tuan rumah, karena saat ini sudah ada Ballroom yang memadai,” kata Andre.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Induk Koperasi Kredit Indonesia (INKOPDIT), Wara Sabon Dominikus, menegaskan pentingnya koperasi kredit (Kopdit) di seluruh Indonesia untuk kembali teguh pada nilai-nilai dan jati diri koperasi.

“Kita berharap Kopdit peserta tetap setia dan kembali teguh pada jati diri koperasi dalam pelayanan dan pengembangan usaha. Harus kembali kepada nilai dan prinsip koperasi yang sejati,” ujar Wara.

Ia menyoroti ketidakseimbangan yang terjadi antara penerapan falsafah koperasi dan pendekatan teknis bisnis. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal 2000-an, pendidikan koperasi lebih banyak berfokus pada aspek teknis seperti simpan pinjam, sementara penanaman nilai-nilai koperasi justru terpinggirkan.

“Ada gap antara ideologi dan teknik bisnis. Ke depan, pendidikan koperasi harus transkronitif, bukan hanya mengajarkan akutansi, tetapi membangun kesadaran anggota terhadap nilai-nilai koperasi,” lanjutnya.

Menurut Wara, esensi keberadaan Credit Union bukan sekadar urusan finansial, melainkan pembangunan manusia seutuhnya.

“Oleh karena itu, pendidikan dalam gerakan koperasi harus dipahami sebagai landasan utama yang mengawal keberlanjutan,” tutupnya.

Seedbacklink