Rektor Unila Karomani Ingin Tunjukkan Pada Dunia Soal Kebhinekaan di Indonesia, Beri Beasiswa Mahasiswa Negara Konflik

# Dilihat: 116 pengunjung
  • Bagikan

BANDARLAMPUNG — Rektor Unila Prof. Karomani menyebutkan Keinginannya untuk misi perdamaian dunia melalui bidang pendidikan, salah satunya ialah dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari negara yang kini tengah konflik, dengan tujuan untuk menunjukkan kebhinekaan yang ada di Provinsi Lampung Negara Indonesia.

Menurutnya Universitas Lampung (Unila) memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan perdamaian Dunia sesuai dengan amanah konstitusi yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945.

“Saya memberikan beasiswa pada negara-negara yang sedang konflik seperti misalnya Palestina, Afganistan, Timur Tengah sana itu kita berikan untuk kuliah di Unila. Untuk apa? Ketika mereka kuliah di sini, supaya mereka itu belajar bagaimana memotret kehidupan bangsa ini yang berbeda-beda suku agama, bahasa, ras dan macem-macem tapi kita bisa bersatu, itu keren banget, “ ujar Rektor Unila Prof. Karomani saat hadir di acara refleksi akhir tahun 2021 di GSG Unila, Kamis (30/12/2021).

Bukan tanpa alasan Unila memberikan peluang bagi mahasiswa dari negara yang berkonflik, salah satunya menurut Prof. Karomani karena suasana perdamaian Indonesia di tengah keberagaman sangat layak untuk dicontoh.

“Di Timur tengah itu, Anda tahu semua, bahasanya sama, bahasa Arab, agamanya relatif sama Islam, bahkan mashab-nya juga seperti di Afganistan itu sekian persen hampir 80 persen itu Suni, Tuhannya sama, Nabinya sama, agamanya sama, datarannya sama, tapi kok mereka tidak bisa bersat? masing-masing saling berbunuhan, malah 40 tahun di Afganistan itu perang saudara, aneh di tengah banyak persamaan malah perang saudara, coba bayangin?,” ucapnya.

Prof. Karomani takzim akan kerukuan dan perdamaian di Indonesia di tengah keberagaman mulai dari suku, agama, ras, dan anggota golongan.

“Di Indonesia di tengah banyak perbedaan malah bisa akur, rukun, tertib satu sama lain, coba geh, ini kan keajaiban. Justru saja takzim bukan dengan barat, takzim bukan dengan Timur Tengah, saya takzim dengan negara sendiri.

“Panggung sejarah ada di Indonesia untuk urusan perdamaian antar etnik, antar suku, antar bangsa,” tandasnya.

Prof. Karomani berharap pada mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Unila dapat mengimplikasikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia di negara asal mereka.

“Karena itu mereka nanti setelah belajar di Unila mudah-mudahan nanti mereka pulang dan menjadi a leader features, di tempatnya masing-masing, hingga betul-betul mempraktekkan, mengimplikasikan nilai-nilai yang ada di kita; toleransi, moderat, guyub, saling tolong menolong, dan seterusnya di negara mereka setelah lulus di Unila,” tandasnya.

Rektor Unila memiliki harapan besar agar budaya-budaya bangsa Indonesia diadopsi oleh para mahasiswa asing yang kuliah di Unila dan menerapkan di negaranya.

“Supaya tidak ada konflik yang berkepanjangan seperti Anda saksikan di media itu,” tandas Prof. Karomani.

Saat ini menurutnya terdapat sekitar 40-an mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Universitas Lampung.

“Keragaman Indonesia, multikultur Indonesia, dan sikap toleransi yang dimiliki bangsa Indonesia patut untuk diperkenalkan ke negara lain, terutama yang tengah berkonflik. Ide besarnya adalah Indonesia yang dibingkai oleh Pancasila dan semangat Bineka Tunggal Ika bisa hadir dan menjadi pelajaran bagi masyarakat dunia,” pungkasnya.(*)

  • Bagikan