Sutradara Hanung Bramantyo Ungkap Alasan Pilih Genre Horor di Film ‘Lobang Buaya’

BANDAR LAMPUNG — Sutradara kondang Hanung Bramantyo menghadiri acara screening film karya terbarunya yang bertajuk Lobang Buaya di Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung, pada Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Hanung didampingi oleh Anya Zen, pemeran Ningsih di Film Lobang Buaya.

Hanung membeberkan alasan mendasar di balik pembuatan film ini serta pemilihan genre horor sebagai media penyampaian pesan.

Hanung menjelaskan bahwa pembuatan film Lubang Buaya bertujuan untuk mengingatkan generasi muda—khususnya Gen Z dan milenial—agar tidak melupakan peristiwa tragedi besar dalam sejarah bangsa.

Menurutnya, peristiwa 1965 merupakan salah satu tragedi kelam yang melibatkan hilangnya banyak nyawa, namun kerap dikesampingkan atau tidak dibahas secara mendalam dalam kurikulum pendidikan formal.

“Saya membuat film ini sebetulnya dalam rangka agar anak-anak muda, Gen Z, milenial tidak melupakan sebuah tragedi besar. Ada dua tragedi besar di Indonesia yang merenggut banyak jiwa, yaitu peristiwa ’65 dan ’98. Dua peristiwa itu seolah sengaja tidak diungkap siapa sebenarnya dalangnya,” ungkap Hanung.

Ia menambahkan bahwa selama ini narasi seputar peristiwa sejarah tersebut sering kali disajikan dengan pola ketakutan atau intimidasi di tengah masyarakat, bukan melalui kajian yang objektif.

Genre Horor sebagai Alarm dan Alat Empati

Menanggapi pertanyaan mengenai pemilihan genre horor, Hanung menegaskan bahwa hal tersebut bukan untuk merendahkan nilai sejarah atau mengabaikan rasa empati terhadap para korban. Sebaliknya, ia memandang horor sebagai sarana efektif untuk memberikan “alarm” kepada penonton muda yang mayoritas menyukai genre tersebut.

“Pilihan genre horor itu bukan semata-mata saya sedang merendahkan peristiwa tersebut, tidak sama sekali. Justru saya berusaha untuk berempati dan bersimpati dengan cara membuat sebuah pengingat, sebuah alarm di bulan September ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, sutradara berusia 50 tahun tersebut menegaskan bahwa semua genre film memiliki kedudukan yang sama mulianya. Menurutnya, tidak ada hubungan antara pemilihan genre dengan kadar empati seorang pembuat film terhadap suatu peristiwa sejarah.

“Genre horor itu sama mulianya dengan genre dokumenter, drama, romance, maupun komedi. Tidak ada hubungan antara pemilihan genre dengan sikap empati kami yang membuat film ini terhadap peristiwa tersebut,” tutup Hanung.(*)

Seedbacklink