SURYASUMATERA.COM, BANDAR LAMPUNG — Turnamen Badminton dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) ke-149 diwarnai aksi protes dari peserta.
Ajang yang berlangsung di Lapangan Badminton Lampung Walk, Bandar Lampung, Sabtu (10/10/2026) mulai pukul 08.00 WIB ini disorot akibat dugaan ketidaktegasan panitia dalam menegakkan aturan pertandingan.

Aksi protes dipicu oleh ditemukannya salah satu peserta atau tim yang memainkan pemain berstatus atlet atau mantan atlet. Hal tersebut terbukti saat identitas pemain yang bersangkutan diperiksa di laman resmi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), di mana nama pemain tersebut terdaftar dan memiliki ID resmi PBSI.
Padahal, berdasarkan regulasi resmi yang disebarkan oleh panitia pelaksana BKHIT Lampung melalui pesan WhatsApp kepada seluruh peserta, aturan mengenai kualifikasi pemain telah ditetapkan secara ketat pada poin ke-4 dari total 16 poin aturan.
Poin ke-4 tersebut secara tegas berbunyi:
“4. Kualifikasi Pemain (PENTING): DILARANG membawa pemain TOP / pemain yang pernah berlaga di turnamen OPEN / Kejurprov / Kejurnas / Sirkuit Nasional. Jika terbukti membawa pemain Top, team langsung DIDISKUALIFIKASI tanpa toleransi. Keputusan panitia mutlak.”
Dinilai Tidak Fair dan Melanggar Regulasi
Ketua Persatuan Bulutangkis (PB) Wartawan, Fajar Arifin, mengaku sangat keberatan dengan masih diloloskannya pemain berstatus atlet profesional tersebut dalam kompetisi.
“Kami dari PB Wartawan merasa turnamen ini tidak fair. Di dalam peraturan sudah jelas dinyatakan pada poin 4 bahwa pemain profesional dilarang dimainkan di kompetisi ini. Namun faktanya, masih ada tim yang memainkannya,” ujar Fajar saat ditemui di lokasi pertandingan, Sabtu (10/10/2026).
Fajar yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lampung sekaligus CEO senator.id ini menyayangkan sikap panitia pelaksana. Menurutnya, alih-alih mendiskualifikasi tim sesuai aturan tertulis, panitia justru menawarkan opsi win-win solution dengan hanya mendiskualifikasi pemain yang bersangkutan, sementara timnya tetap diperbolehkan melanjutkan pertandingan.
“Sangat disayangkan, padahal merujuk pada regulasi tertulis di poin 4, sanksinya adalah diskualifikasi terhadap tim, bukan hanya satu pemain saja. Gimana sih panitia ini, sudah jelas tertulis aturannya kok justru mereka sendiri yang melanggar,” cetus Fajar.
Ia pun meminta panitia pelaksana Turnamen Badminton HUT BKHIT Lampung ke-149 tahun 2026 untuk bersikap tegas dan konsekuen dalam menjalankan aturan yang telah disepakati bersama, mengingat ajang ini membawa nama besar institusi.(red).






