Penulis : Sabiqul Iman (Dosen IIB Darmajaya, Prodi Bisnis Digital FEB, Juga Pegiat Media Sosial)
Kritisnya Bima, seorang mahasiswa asal Lampung Timur yang sedang belajar di Aussy, mengekspresikan cintanya pada daerah dengan kritisisme justru dibalas dengan tindakan persekusi, tekanan terhadap ortunya. Bahkan dirinya dilaporkan ke aparat hukum, menimbulkan empati emosional yang tinggi. Tidak hanya dari sebayanya di level daerah, bahkan menasional.
Bagaimanapun perasaan cinta Bima sebagai gen z terhadap daerahnya yang diekspresikan dalam bentuk kritisisme pada kondisi infrastruktur juga merupakan cerminan kegundahan hati teman sebaya atau seusianya. Kesesuaian inilah yang dapat menjelaskan bahwa gen z merasakan “Bima adalah kita dan kita adalah Bima”.
Gerakan digital gen z sebagai partisipasi publik dalam mensupport sikap kritisnya Bima terhadap kondisi infrastruktur daerah, dapat tereksesi atau terlaksana secara baik, massif dan lintas generasi. Sebab problematika infrastruktur merupakan hal yang dilihat dan dirasakan oleh semua orang.
Semua orangpun begitu mudah mengakses media sosial, baik dalam konteks mendeliver konten atau bahkan menciptakan konten.
Berbagai keluhan publik yang kemudian ditangkap menjadi konten yang kekinian menambah ramai, sehingga eksposur perbincangan meluas. Contohnya truk yang kepater di Jalan Rumbia Lampung Tengah.
Kuncinya adalah share: storytelling, hype, actionable, relevan, dan emotional. Share merupakan konsep bauran mobilisasi online yang dikenakan dikenalkan oleh Rhenald Kasali.
Oleh karena itu, potensi dan fenomena ini perlu diperhatikan dan diseriusi terlebih oleh pejabat publik atau calon pejabat publik. Karakter gen z tidak ingin terkekang dalam model kebijakan yang top down, mereka ingin didengarkan dan diajak berkolaborasi. “Jempol” mereka begitu aktif, terlebih ketika ada peristiwa yang tak masuk ke logika/nalar serta emosional mereka. (Sabiqul Iman).






