Forum CSR Lampung Dukung Pelestarian Lingkungan, Tanam Mangrove di Merak Belantung Kalianda

Bandar Lampung, 28 Agustus 2026 – Forum Corporate Social Responsibility Lampung (FCL) berbagi semangat dalam mendukung pelestarian lingkungan melalui kegiatan “Gotong Royong Hijau: Penanaman Mangrove 2026” yang dilaksanakan di Kawasan Konservasi Merak Belantung, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

Kegiatan ini merupakan aksi kolaboratif lintas sektor yang mengedepankan sinergi antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, komunitas, masyarakat, dan media dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Ketua Forum CSR Lampung, Dr.Veronika Saptarini,S,H,M.M menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen perusahaan-perusahaan anggota Forum CSR Lampung dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui rehabilitasi kawasan pesisir yang mengalami tekanan akibat abrasi dan perubahan fungsi lahan. Melalui gerakan Gotong Royong Hijau, Forum CSR Lampung menginisiasi penanaman 4.000 bibit mangrove Bibit yang ditanam di area Konservasi Desa Way Lubuk, Kalianda, Lampung Selatan.

Ketua Pusat Study CSR UBL ini menjelaskan, di tengah peningkatan krisis iklim global saat ini, penanaman pohon khususnya mangrove menjadi krusial. Peningkatan suhu bumi yang hampir menyentuh batas 1,5 derajat telah memicu cuaca ekstrem dan kenaikan gelombang laut. Dampak buruk krisis iklim ini bukan lagi sekedar cerita, namun sudah jadi bencana nyata. Di Indonesia masih terpatri di ingatan banjir bandang dan longsor besar di Sumatera Utara beberapa wakt lalu dan di luar negeri, beberapa hari lalu, gletser es raksasa di pegunungan Nepal mencair dengan cepat hingga menimbulkan banjir bandang dahsyat yang menghantam bangunan, menghilangkan banyak nyawa. Semua bencana ini jadi alarm kuat gai kita untuk makin cepat bergerak memperbaiki alam sebelum terlambat.

Ekosistem mangrove adalah penyerap karbon (blue carbon) yang efektif, bahkan hingga empat hingga lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan hutan tropis daratan. Mangrive juga penjaga keanekaragaman hayati yang sekaligus memberi manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pesisir. Rini menegaskan gotong royong hijau tidak boleh berhenti hanya sampai pada tahap seremonial. Tantangan terbesar justru pada bagaimana memastikan hidupnya bibit-bibit yang telah ditanam. Karena itu olaborasi dengan komunitas diperlukan Rini untuk perawatan dan monitoring pasca-tanam sehingga investasi lingkungan yang dilakukan benar-benar membuahkan hasil jangka panjang bagi masa depan ekologi Lampung. Melalui semangat “Gotong Royong Hijau”, Forum CSR Lampung mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan mangrove sebagai warisan lingkungan bagi generasi mendatang.

Dalam kesempatan ini, Rini menyampaikan, harusnya lebih banyak korporasi yang beroperasi di Lampung dapat untuk ikut serta mengambil bagian dalam aksi nyata ini. Berdasarkan BPS terdapat sedikitnya 420 perusahaan industri berskala menengah dan besar yang terdaftar di wilayah Lampung. Jika setiap perusahaan tersebut membangun komitmen kolektif untuk peduli pembangunan berkelanjutan di Lampung melalui program CSR nya, maka dampak positif yang dihasilkan bukan hanya untuk masyarakat dan lingkungan, namun juga bagi perusahaan.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam sambutan yang dibacakan oleh Tenaga Ahli Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Edison, menyampaikan apresiasi kepada Forum CSR Lampung dan perusahaan-perusahaan ikut dalam Gotong Royong Hijau ini, dan berharap program yang fokus pada lingkungan bisa tetap terus berjalan secara kesinambungan. Gubernur menyampaikan sebagai daerah dengan garis pantai yang panjang—membentang dari Pesisir Barat, Teluk Semaka, Teluk Lampung, hingga Pantai Timur—wilayah pesisir Lampung berada di garda terdepan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kawasan Kalianda dan pesisir Lampung Selatan, yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda, menghadapi ancaman abrasi pantai yang agresif, banjir rob, hingga potensi bencana gelombang pasang. Tanpa perlindungan vegetasi yang kuat, degradasi lahan pesisir ini tidak hanya merusak infrastruktur dan pariwisata daerah, tetapi juga mengancam nelayan lokal. Pemerintah menilai gotong royong ini bukan sekadar aksi penghijauan biasa, melainkan langkah mitigasi bencana berbasis ekosistem untuk memperkuat ketahanan wilayah Lampung dari ancaman krisis iklim. Sinergi perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan akan memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pelestarian lingkungan sekaligus mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Beragam fasilitas mulai dari bibit, peralatan, tenaga kerja hingga akomodasi untuk kegiatan ini dilakukan secara Gotong Royong Hijau atas inisiasi PT Nestle Indonesia Pabrik Panjang yang bersinergi dengan PT Keong Nusantara Abadi, Tunas Dwipa Matra (TDM) Honda, PT Konverta Mitra Abadi, PT CNG Hilir Raya, PT Natar Gerbang Angkasa, Great Giant Food. Kegiatan ini juga dihadiri oleh PT Telkom, Bank Lampung, Pertamina Geothermal Energy serta menggandeng mitra antara lain Yayasan Langit Sapta, Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Lampung, dan Komunitas Lingkungan Satu Jejak. (*)

Seedbacklink