Lampung 21 April — Peringatan Hari Kartini kembali digelar di berbagai daerah dengan beragam kegiatan seremonial. Momentum ini sejatinya tidak hanya menjadi ruang perayaan, tetapi juga refleksi atas kondisi perempuan Indonesia hari ini.
Ketua Bidang Sarinah DPD GMNI Lampung yakni Dewi Sulistiya, menilai bahwa semangat yang diwariskan Raden Ajeng Kartini masih menghadapi tantangan dalam praktik kehidupan sehari-hari, terutama terkait jaminan keamanan dan kesetaraan.
“Setiap tahun Kartini diperingati dengan berbagai simbol dan narasi emansipasi. Namun, penting untuk melihat sejauh mana nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini benar-benar hadir dalam realitas,” ujarnya Tiya.
Data Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2025 yang dirilis pada 2026 mencatat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam satu tahun, dengan sebagian besar terjadi di ranah domestik. Temuan ini menunjukkan bahwa ruang privat, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, masih menyisakan kerentanan bagi perempuan.
Menurut Dewi, angka tersebut perlu dibaca tidak hanya sebagai statistik, tetapi sebagai indikator bahwa upaya perlindungan perempuan masih memerlukan penguatan, baik dari sisi kebijakan maupun implementasi.
“Ketika kekerasan masih terjadi dalam jumlah besar, ini menjadi pengingat bahwa kerja-kerja perlindungan belum sepenuhnya efektif,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa refleksi Hari Kartini tidak dapat dilepaskan dari cara negara melihat dan mengakui peran perempuan, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam sejarah bangsa.
Dalam konteks ini, GMNI Lampung juga mendorong agar Inggit Garnasih mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional. Sosok Inggit dinilai memiliki kontribusi penting dalam perjuangan kemerdekaan, tidak hanya sebagai pendamping Soekarno, tetapi juga sebagai penopang ekonomi dan kekuatan moral dalam masa-masa krusial perjuangan.
“Pengakuan terhadap Inggit dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan perspektif yang lebih adil dalam melihat peran perempuan, sekaligus memperkaya makna perjuangan yang selama ini diwariskan,” kata Tiya .
Menurutnya, semangat Raden Ajeng Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi dalam arti formal, tetapi juga tentang perubahan cara pandang terhadap perempuan dalam struktur sosial—baik di masa lalu maupun hari ini.
DPD GMNI Lampung ajak seluruh kader untuk menilai peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi ruang evaluasi bersama, agar perayaan tidak berhenti pada simbol, tetapi mendorong perubahan yang lebih nyata.(*)






