Sumarju Buka Sarasehan Kearifan Lokal dan Keserasian Sosial

290

BANDARLAMPUNG — Kepala dinas sosial provinsi Lampung, Sumarju Saini, Membuka Sarasehan Kearifan Lokal dan Keserasian Sosial. Berlangsung di hotel grand praba bandarlampung, 2-4 Oktober 2018.

Pada acara pembukaan, ditampilkan contoh bentuk kearifan lokal, yakni kesenian Kuda Lumping dari Desa Wiyono dan qosidah Modern dari Desa Sidodadi Kabupaten Pesawaran.

Pesertanya ialah Pelopor Perdamaian dari beberapa kabupaten diantaranya Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Lampung Timur, Lampung Tengah dan Way Kanan.

Sebagai pemateri, dinsos Lampung menghadirkan narasumber dari Kementerian Sosial, Polda Lampung dan Dinas Sosial Provinsi Lampung.

Kadis sosial Lampung, Sumarju Saini dalam sambutannya mengatakan,
konflik antar warga itu bertebaran hampir diseluruh daerah di nusantara, menjadi berita di media masa cetak dan elektronik dengan latar belakang bervariasi.

Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang penanganan konflik sosial, mengamanatkan, pola penanganan dapat dilakukan melalui 3 tahapan yaitu pencegahan, penghentian dan pemulihan pasca konflik.

Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2015 tentang peraturan pelaksanaan ndang-undang nomor 7 tahun 2012 secara spesifik disebutkan, penyelenggaraan kegiatan dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan pencegahan konflik, antara lain melalui menyelenggarakan kegiatan penguatan akses kearifan lokal dan penguatan keserasian sosial.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Maria Tamtina menjelaskan, Kementerian Sosial pada tahun 2018, telah mengalokasikan anggaran sebanyak 750 juta rupiah, untuk 15 jenis kearifan lokal di tujuh Kabupaten tersebut sebagai peserta sarasehan.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit pencegahan direktorat perlindungan sosial bencana sosial Kemensos RI, Helmi Datuk, yang menjadi pemateri dalam acara tersebut mengatakan, melalui kearifan lokal ini, kementerian sosial berharap dapat meningkatkan komitmen peserta, untuk mencegah terjadinya konflik di masyarakat. (*).

Komentar