Warga Lampung Tengah Manfaatkan Kotoran Sapi Untuk Memasak dan Produksi UMKM

LAMPUNGTENGAH — Kotoran Sapi ternyata bisa diolah menjadi pengganti bahan bakar gas, atau biasa disebut biogas.

Sukarjo, salah satu mitra Pertamina, asal Desa Rejo Basuki, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, mengaku sangat terbantu dengan adanya program pemanfaatan kotoran sapi menjadi gas untuk kebutuhan rumah tangganya.

“Alhamdulillah sangat terbantu sekali adanya biogas ini,” ujarnya saat ditemui, dirumahnya, Rabu (11/10/203).

Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) di desanya, pada awal tahun 2023, Soekarno ditawarkan bantuan pembuatan biogas pemanfaatan dari kotoran sapi, yang kebetulan ia punya sebanyak 2 ekor sapi dan 1 ekor lagi milik tetangganya yang dititipkan kepadanya dengan cara gaduh, atau bagi hasil.

Sukarjo, penerima bantuan CSR Pertamina, berupa pembuatan biogas dari kotoran sapi.

Jadi total ada 3 sapi betina yang ada bisa dimanfaatkan kotorannya sebagai bahan baku pembuatan biogas.

Ia mengatakan, dari kotoran 2 sapi itu mampu menghasilkan biogas yang cukup bahkan lebih dari kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Oleh sebab itu, agar biogas tidak mubazir, maka ia bersama istrinya membuka usaha kecil yakni memproduksi nasi tiwul, selain memanfaatkan kelebihan biogas, usaha tersebut juga bisa membantu untuk menambah penghasilan.

Ia mengaku adanya biogas sangat membantu penghematan pengeluaran kebutuhan keluarga. sebelumnya dalam sebulan bisa menghabiskan 4 tabung gas melon atau ukuran 3 kilogram. Kualitas tekanan gas untuk menghasilkan api juga sama, malah lebih biru.

Untuk membuat biogas dari kotoran sapi hanya diperlukan lahan sekitar 4×5 M2, dan instalasi semua dibantu oleh Pertamina.

Sukarjo bercerita, sebenarnya pada tahun 2021 ada warga di desanya pernah ditawarkan pembuatan biogas, namun banyak yang tidak diambil, dengan alasan sulit, sehingga lebih memilih menggunakan gas elpiji 3 kilogram.

Sukarjo menunjukan cara mengolah kotoran sapi menjadi biogas

Namun setelah ia merasakan manfaatnya, banyak warga yang tertarik atau berminat ingin juga menggunakan biogas.

“awal-awal dulu mungkin agak susah, karena mungkin belum tahu manfaatnya. Di samping itu ribet, enak pakai gas aja langsung gini, pakai ini ribet ngisinya, harus setiap hari harus gitu, nah setelah yang kedua, yang ketiga, sekarang alhamdulillah kayaknya pada berebut kalau ada lagi gitu,” kata Sukarjo.

Ia menjelaskan, selain hemat, untuk keamanan juga sangat terjamin, karena instalasi dari teknisinya langsung, dan menggunakan kompor yang sudah dimodifikasi.

“Kita pakai kompor biasa terus dimodifikasi, apinya alhamdulillah stabil. Sementara tidak ada kendala. Seandainya ada pipa bocor, walau ada api tidak akan menyala, kalau tidak lewat kompor gitu, walaupun pakai korek tidak akan hidup jadi keamanan cukup bagus,”tambahnya.

Ia juga menjelaskan, proses awalnya jadi kotoran sapi dimasukkan ke mixer pengadukan, langsung kita masukin ke degister itu sudah langsung menghasilkan gas terus kotoran dan itu menjadi pupuk.

Awal pembuatan saat masih kosong itu kita pakai 15 angkong atau lori untuk memenuhi mixer, setelah penuh kita rutin setiap setiap hari, atau bisa juga dua hari sekali sekitar 2-3 ember, sekira-kiranya saja sesuai kebutuhan, karena jika lebih maka akan terbuang.

Sementara itu, Area Manager Communication Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Tjahyo Nikho Indrawan, menyebutkan jika program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina tersebut sangat cocok disalurkan ke warga Rejo Basuki, karena banyak yang memiliki sapi, dan wilayahnya masih banyak sawah, sehingga sisa hasil dari pembuatan biogas bisa dimanfaatkan juga untuk pupuk petani.

Pembuatan biogas dilaksanakan sejak 2021, dan berlanjut terus hingga tahun 2023, dan masih akan dilanjutkan hingga 2024.

Diharapkan adanya pembangunan biogas di wilayah tersebut, mampu menumbuhkan ekonomi, sekaligus menjadi sentra produksi UMKM berbahan baku singkong,” tutupnya.

Seedbacklink