Bupati Loekman : Sosialisasi Boleh, Tapi Jangan Menjelek-Jelekan

199
Bupati Lampung Tengah, Loekman Djojosoemarto.

LAMPUNGTENGAH — Terkait Tausiyah yang disampaikan Ustad Kondang Solmed, Bupati Lampung Tengah Loekman Djoyosoemarto Mengatakan dirinya tidak pernah melarang siapapun yang hendak melakukan sosialisasi.

“Saya tidak membatasi atau melarang siapa pun untuk sosialisasi. Ini bagian dari bentuk demokrasi. Apalagi sampai menghalang-halangi dan mempersulit perizinannya. Monggo, silakan. Makin banyak pilihan akan lebih baik,” katanya di Omah BJW (Beguwai Jejamo Wawai), Kampung Bumimas, Kecamatan Seputihagung, Jum’at, (27/9/2019).

Namun, Loekman berharap isi
sosialisasi maupun ceramah hendaknya menumbuhkan semangat kebersamaan dengan masyarakat yang selama ini kita bangun.

“Harapan saya sosialisasi isinya menumbuhkan semangat kebersamaan. Semangat gotong-royong. Jangan justru melemparkan isu-isu yang akan berdampak memecah belah kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Terkait isi dari tausiyah Ustad Solmed yang didapat saat sosialisasi, Loekman meminta masyarakat menilai sendiri. “Ya, monggo sajalah. Masyarakat sekarang sudah pandai dan cerdas. Sudah paham dan bisa menilai. Kalau Ustad ceramah bagaimana pasti lebih paham.

Gunakan bahasa yang santun, masa’ bupati diidentikkan dengan kulkas. Tidak perlu komentar saya. Jika dia memang ustad, nggak usahlah ikut-ikutan urusan pemerintahan dan politik,” ungkapnya.

Termasuk ustad bicara masalah anggaran pemerintah daerah Rp2,7 triliun, Loekman mengatakan hal itu akan menurunkan kualitas yang bersangkutan.

“Dia (Ustad Solmed, Red) tidak tahu Rp2,7 triliun itu untuk komponen apa saja. Nggak usahlah sejelek-jelekan. Saya juga punya kok. Tapi, saya tidak mau menjelekkan atau membuka aib orang lain. Tapi kalau dipaksa, ya namanya dipaksa. Sekali lagi, saya nggak mau membuka aib orang dan menilai kerja orang,” katanya.

Dalam sosialisasi yang dilakukan dirinya setiap kunjungan kerja, kata Loekman, dirinya hanya menyodorkan dan menawarkan program kerja kepada masyarakat.

“Saya sodorkan program kerja. Saya akan kerjakan pada masa mendatang. Saya juga tidak pernah mau berjanji sesuatu. Tapi kalau saya punya kesempatan atau kemampuan akan berbuat, ya akan berbuat,” ujarnya.

Terkait ucapannya yang mengatakan Ustad Solmed itu celometan, Loekman membenarkannya.

“Ya, memang celometan. Bicara tanpa fakta. Faktanya tak ada disampaikan. Kalau ada yang tidak senang dengan ucapan saya yang mengatakan Ustad Solmed celometan dan mau melapor, silakan. Kan jelas kalau kayak gitu celometan. Kalau saya mau menempuh jalur hukum, saya juga punya hak lho. Dia (Ustad Solmed, Red) memprovokasi masyarakat. Penghasutan. Coba bayangkan kalau masyarakat yang nggak paham dan menanggapi anggaran Rp2,7 triliun, itu menyesatkan,” tegasnya.(*)

Komentar