Kadis Sosial Lampung Aswarodi Benarkan Pengusulan Gelar Pahlawan Daerah Marzuli Warganegara, Ini Riwayat Singkatnya

Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung Drs. Aswarodi M.Si

BANDARLAMPUNG — Ir. H. Marzuli Warganegara diusulkan menjadi pahlawan daerah perintis dan pembina olahraga Provinsi Lampung, oleh Dewan Gelar Daerah (DGD) dan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Lampung.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung Drs. Aswarodi M.Si membenarkan adanya usulan tersebut, dan sudah dibahas melalui Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan di Wood Stairs Cafe, Sabtu, 26 Februari 2022.

FGD dihadiri, Ketua Dewan Gelar Daerah (DGD) Prof. DR. Ir. Muhammad Yusuf Barusman, MBA, Wakil Ketua DGD Brigjen TNI (Purn) Toto Jumariono, S.S, M. I. Kom, anggota DGD Prof. DR. H. Moh. Mukri,. M. Ag dan Supriyadi Alfian, SH, MH, Ketua Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Drs. Maskun beserta anggota, dan perwakilan dari Dinas Kominfotik, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Biro Hukum, Biro Kesra, Setda Provinsi Lampung serta ahli waris.

“Ya benar, kami telah melaksanakan FGD bersama TP2GD, DGD, ahli waris serta instansi terkait, atas usulan gelar pahlawan daerah Ir. H. Marzuli Warganegara, hasilnya memutuskan bahwa beliau layak mendapat penghargaan gelar pahlawan daerah Provinsi Lampung. Selanjutnya Dewan Gelar Daerah merekomendasikan ke pak Gubernur untuk menetapkannya,” ujar kadis, saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (1/3/2022).

Kadis Sosial Aswarodi menambahkan, pemberian gelar pahlawan daerah dan tokoh daerah Provinsi Lampung memiliki tujuan, menghargai jasa setiap orang, kesatuan, institusi pemerintah, atau organisasi yang telah mendarmabaktikan diri dan berjasa besar dalam berbagai bidang kehidupan di Provinsi Lampung, menumbuh kembangkan semangat kepahlawanan, kepatriotan, dan kejuangan setiap orang untuk kemajuan dan kejayaan Provinsi Lampung, bangsa, dan negara, menumbuh kembangkan sikap keteladanan bagi setiap orang dan mendorong semangat melahirkan karya terbaik bagi kemajuan Provinsi Lampung, bangsa, dan negara.

Dari penelitian yang dilakukan TP2GD sejak beberapa waktu lalu, dan telah disampaikan ke DGD, juga ke Dinas Sosial Provinsi Lampung melalui Bidang Pemberdayaan Sosial, selaku instansi yang membidangi usulan penghargaan gelar pahlawan daerah, berikut sejarah singkat Ir. H. Marzuli Warganegara:

Ir. H. Marzuli Warganegara lahir di Tanjung Karang, 4 Maret 1939, Wafat di Jakarta, 23 Juli 1996.

Nama Istri :
: dr. Ambar Wulan
Nama Anak-anak
: 1. Prof. Dr. drg. Eriska Riyanti, Sp.KGA-K.AIBK.
2. Ir. Tanza Dwi Jaka Utama, M.Sc.
3. Marko Tridarma, S.E.
4. Poppy Suryanti, S.IKom., M.IKom.
5. Dandy Suryanto

Riwayat Pendidikan
1. Sekolah Rakyat (SR) Tanjung Karang Tahun 1953
2. SMP Taman Dewasa Teluk Betung Tahun 1956
3. SMA Negeri Tanjung Karang Tahun 1958
4. Institut Teknologi Bandung (ITB) Tahun 1959

Riwayat Pekerjaan/Jabatan

1. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lampung Utara Tahun 1967-1972
2. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lampung Selatan Tahun 1972-1978
3. Staf Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Lampung Tahun 1978-1980
4. Pengusaha Nasional dan Pembina berbagai cabang Olahraga Tahun 1980-
1996
5. Direktur PT. Jaka Utama

Riwayat Pengalaman Organisasi
1. Ketua Komite Daerah (Komda) PSSI Lampung 1978-1988
2. Ketua Persatuan Lawn Tennis Lampung 1970-1980
3. Ketua Umum Pengda PRSI Lampung Periode Tahun 1995-1999

Masa Perintisan dan Pembinaan Olahraga

Kehidupan olahraga di Lampung tidak dapat dilepaskan dari sosok Marzuli Warganegara.

Marzuli Warganegara semasa hidupnya memfokuskan diri dunia olahraga yang membawa Provinsi Lampung berprestasi di kancah nasional.

Berbagai prestasi dia torehkan dalam mengangkat nama baik Provinsi lampung di kancah
nasional. Berbagai cabang olahraga dia sentuh sehingga melahirkan berbagai prestasi, diantaranya sepak bola, renang, selam, catur, karate, tenis lapangan, dan tenis meja dan tinju.

Dalam merintis dan membina olahraga di Lampung, dalam benak Marzuli Warganegara yang kala itu tidak henti-henti mengeluhkan kondisi dunia olahraga Lampung maupun tingkat nasional. Keluhan terbesar Marzuli Warganegara adalah bahwa atlet sangat gemar berpindah-pindah daerah belaan.

Hal tersebut terjadi karena tidak sedikit atlet memburu bayaran tinggi. Bila ada daerah
berani membayar mahal, si atlet siap angkat kaki untuk membela daerah yang berani membayar mahal tersebut.

Dalam mengangkat prestasi sepak bola Lampung Marzuli Warganegara membentuk klub sepak bola diberi nama Jaka Utama. Penamaan ini mengambil dari salah satu putra beliau yang kedua sebagai inspirasinya, yaitu Tanza Dwi Jaka Utama, hal ini menunjukkan bukti kecintaan dan keseriusan Marzuli Warganegara dalam pengelolaan sepak bola agar menjadi tim yang berprestasi nantinya.

Klub Jaka Utama dirintis oleh Marzuli Warganegara dari tahun 1975 dengan melakukan seleksi 60
calon pemain amatir yang di ambil dari berbagai daerah. Dari 60 calon diambil 22 orang pemain yang kemudian diasramakan untuk di gembleng melalui pelatihan yang serius dan keras.

Dalam upaya merintis dan membina klub sepak bola Jaka Utama, Marzuli Warganegara mendatangkan pemain dan pelatih terbaik dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri dengan dana pribadinya. Tercatat beberapa pelatih yang pernah berkiprah di Jaka Utama adalah Yubhar, Lily Budihartono, Jami’at Dahlar, Suwardi Arlan, Jacob Sihasale, dan Halilintar. Marzuli Warganegara bahkan menjadikan Broery Pesoelima sebagai Manajer Klub Jaka Utama tentu dengan gaji dan bayaran dari dana pribadi.

Untuk mengisi skuad Jaka Utama, Marzuli memperkuatnya dengan komposisi pemain terbaik dari berbagai daerah yakni dari Lampung, Medan, Jambi, Surabaya, dan Jakarta salah satunya adalah Santos. Pemain dari Lampung sendiri yakni Arsyad
Z, Hartono, dan Aulia Rifai.

Sebagai sarana Klub Jaka Utama, Marzuli menyediakan asrama dan lapangan khusus sebagai training center yang diresmikan langsung oleh Ketua PSSI Pusat Ali Sadikin.

Melahirkan Gagasan Cemerlang “Bonus”

Terobosan yang sangat cemerlang dari Marzuli untuk memacu motivasi pemain sehingga mampu mendulang prestasi yakni menerapkan sistem “bonus” di luar gaji utama.

Bahkan sistem bonus tersebut yang akhirnya diterapkan oleh seluruh cabang olah raga hingga saat ini. Gagasan ini disampaikan dalam forum rapat PSSI di Jakarta.

Para pemain klub Jaka Utama sendiri, setiap pemain mendapatkan gaji Rp75.000
setiap bulannya ditambah dengan segala kebutuhan asrama, makan, pemenuhan gizi, Latihan, dan sebagainya ditanggung oleh Marzuli Warganegara. Terkait dengan bonus, setiap yang mencetak goal ke gawang lawan akan mendapatkan bonus
tambahan sebesar Rp. 20.000, sedangkan assist mendapatkan bonus Rp. 30.000.

Jika dihitung dari nilai gaji dan sebagainya pengeluaran untuk pembinaan atlet pada saat
itu melebihi batas minimum gaji pegawai negeri (standar Nasional). Dengan pola terbalik pada sistem pemberian bonus pencetak goal dan assist
memberikan gambaran bahwa visi Marzuli Warganegara terhadap kualitas permainan sangat terbuka siapa saja berpeluang mendapatkan bonus dan secara otomatis meningkatkan motivasi dalam bermain.

Masa Mendulang Prestasi

Masyarakat awam mungkin barangkali lebih mengenal Marzuli Warganegara sebagai pemilik klub sepak bola Jaka Utama. Tapi, sangat jarang masyarakat tahu
bagaimana Marzuli Warganegara pontang-panting untuk membesarkan klub elite Galatama (Liga Sepak Bola Utama) Indonesia itu. Menggeluti dunia sepak bola bagi Marzuli Warganegara tidak sepenuhnya berjalan mulus. Meski demikian, keyakinannya tetap kuat bahwa Lampung memiliki potensi besar untuk berlaga
dalam kancah persepakbolaan nasional.

Kiprah Marzuli Warganegara dalam sepak bola melalui penggemblengan atletnya dalam klub Jaka Utama menjadikan hampir 90% pemainnya mengisi skuad utama tim sepak bola daerah (Gajah) Lampung, yang di bawa dalam kompetisi nasional bergensi yaitu PON X tahun 1981.

Pada tahun itu tim sepakbola Lampung menjadi kampiun peraih medali Emas. Itu merupakan medali emas pertama dan satu-satunya yang diperoleh provinsi Lampung dalam sepak bola sampai saat ini.

Marzuli Warganegara pada saat itu juga merupakan pembina (Ketua Komite PSSI Komda Lampung) ketika mengantarkan Tim Gajah Lampung meraih emas. Saat itu, Lampung dianggap tim kelas bawah oleh tim-tim unggulan dari Jawa dan Sumatera.

Di timnya, Marzuli Warganegara mengandalkan Sudaryanto pada posisi kunci. Ia memang kepincut berat sama Sudaryanto. Sejak usia 10 tahun, Sudaryanto bergabung dengan klub anak gawang (sepak bola junior), sebelum pindah ke Tim Union Makes
Strength (UMS) Jakarta. Di UMS inilah Marzuli Warganegara melihat kiprah Sudaryanto dan kemudian memboyongnya ke Jaka Utama tentu dengan biaya
Marzuli Warganegara.

Selain sepak bola, Marzuli Warganegara meninggalkan kenangan indah di cabang tinju. Gelaran pertarungan adu jotos itu memperebutkan Sarung Tinju Emas
(STE).

Pencetusnya seorang wartawan olahraga Sumohadi Marsis, dan kawan-kawan pada 1975. Nah, Piala Sarung Tinju Emas berupa replica sarung tinju (gloves) yang
terbuat dari emas murni yang dibuat oleh pengrajin dari Kota Gede adalah sumbangan dari Marzuli Warganegara.

Kebanggaan untuk membela daerah sendiri nampaknya tidak muncul dalam jiwa atlet pada masa itu. Mengapa atlet begitu gampang pindah ke lain hati? Mereka
memburu keuntungan dari jual beli atlet yang sedang marak pada saat itu. Bonus juga bakal mengalir jika berhasil mendulang emas. Itulah yang terjadi pada atlet-atlet Lampung di PON XIII.

Alih-alih agar atlet lokal termotivasi berlatih, pengurus cabang olahraga malah lebih suka mengajak atlet luar yang sudah “jadi” untuk bergabung dengan tim.

Marzuli Warganegara tidak sepenuhnya menyalahkan, tapi ia khawatir betul jika model demikian itu terus dipertahankan. Akan berdampak buruk pada dunia olahraga Lampung khususnya cabang sepak bola.

Insting Marzuli Warganegara sangat tajam dalam mencium bahaya besar dibalik hobi beli-membeli atlet PON. Bukan malah meningkatkan kualitas dan kemampuan, justru atlet lokal makin tenggelam oleh nama besar atlet yang sudah “jadi”. Lebih dari itu, bisa membunuh komitmen si atlet terhadap daerah asal, bahkan negaranya. Atlet terjebak bonus tinggi, tapi melupakan bakti membela Tanah Air.

Selain cabang sepak bola seperti yang sudah dipaparkan di atas, cabang renang di Lampung tidak bisa dipisahkan dari sosok Marzuli Warganegara bersama rekannya Djuhriansyah. Dari tangan kedua orang inilah prestasi dalam cabang renang di
Lampung menjadi besar. Berawal dari tekadnya untuk memajukan olahraga renang di Lampung, Marzuli Warganegara bekerja keras membangun mimpinya.

Tidak hanya waktu yang dikorbankan oleh lelaki yang lahir pada 4 Maret 1939 itu. Sebagai pengusaha, sekaligus penerima Anugerah Pembina Olahraga Terbaik Nasional Tahun 1978-1979 yang diberikan oleh SIWO PWI tersebut bahkan tidak jarang harus merogoh uang pribadinya untuk mendanai program renang demi prestasi Lampung.

Dalam mengembangkan prestasi cabang renang Marzuli Warganegara selaku pembina menggagas berdirinya klub renang Tirta Pahoman pada tahun 1979 dan Tirta Utama pada tahun 1980. Dua tahun kemudian yakni 1982 Marzuli Warganegara mendirikan Klub Renang Jaka Utama yang masih bertahan sampai saat ini, bahkan
untuk lomba Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan (KRAP) di Indonesia.

Sejak 1985 sampai saat ini Klub Jaka Utama tetap mewakili Lampung dengan prestasi yang membanggakan. Sebagai pembina renang Marzuli Warganegara berhasil membawa Djuhriansyah untuk melatih renang ke Lampung.

Dalam membina atlet Djuriansyah mendapat dukungan penuh dari Marzuli. Tidak hanya memikirkan kebutuhan atlet selama latihan, Marzuli Warganegara juga menyediakan dana untuk pengiriman atlet bertanding ke berbagai daerah di Indonesia.

Usaha keras yang dilakukan kedua tokoh ini selama tahun 1982 hingga 1985 lambat laun berbuah manis. Tahun 1985 di Pekan Olah Raga (PON) XI di Jakarta,
tiga orang anak Djuhriansyah serta beberapa perenang dan peselam mempersembahkan medali terbanyak bagi kontingen Lampung.

Saat itu, renang menghasilkan tiga medali emas, enam medali perak, dan enam medali perunggu. Suatu raihan prestasi yang manis dan membanggakan di tengah banyaknya kesulitan saat itu.

Rekapitulasi prestasi yang diperoleh cabang olahraga baik di tingkat nasional maupun internasional di bawah binaan Marzuli Warganegara:
1. Medali Emas Sepakbola PON X Jakarta.
2. Medali Emas Cabor Selam Putri 3500 M FS Laut PON XI Jakarta 1989.
3. Medali Perak Cabor Selam Putri 1500 M FS Laut, PON XI Jakarta 1989.
4. Medali Perak Cabor Selam Putri 5000 M FS Laut, PON XI Jakarta 1989.
5. Medali Perunggu Cabor Renang Gaya Ganti Estafet Putri 4 x 100 M, SEA GAMES MANILA 1989.
6. Medali Emas 100 M Gaya Kupu-Kupu Putra, SEA GAMES MANILA, 1989.
7. Medali Emas Cabor Renang 50 M Gaya Dada Putri, PON XIII Palembang, 2004.
8. Medali Emas cabor renang 100 M Gaya Dada Putri, PON XIII Palembang 2004.
9. Medali Perunggu Cabor Renang 50 M Gaya Punggung Putri PON Balikpapan Kalimantan Timur, 2008.

Atas prestasi yang diperoleh Marzuli Warganegara, Pemerintah Republik Indonesia memberikan berbagai penghargaan kepadanya, yaitu :
1. Penerima Anugerah Pembina Olahraga Terbaik Nasional ( Jakarta, 1978-1979)
2. Perintis Pembinaan Olahraga di Lampung (Bandar Lampung, 13 Mei 1995)
3. Adimanggala Krida ( Jakarta 1989).(ih).

Seedbacklink