SURYASUMATERA.COM — BANDARLAMPUNG — Sekretaris Yayasan Xaverius Tanjung Karang Gizik Priambo mengungkapkan jika video perkelahian antar siswa SMP Xaverius yang videonya viral, telah berdamai.
Juga terkait persoalan siswa yang beritanya viral, diduga dikeluarkan sepihak oleh pihak sekolah, sudah selesai.
Hal itu disampaikannya, saat konferensi pers, yang digelar di Wisma ST Albertus, depan SMP Xaverius 2,.Pahoman, Bandarlampung, Senin 22 September 2025.
Dalam konpers itu Gizik Priambo didampingi, pengurus yayasan, dan Kepala Sekolah SMP Xaverius 2 Bandarlampung, Sisilia surasi Andriyani, serta beberapa dewan guru.
Klarifikasi Pihak Yayasan Xaverius Tanjung Karang Terkait Video Perkelahian
Pada klarifikasinya dihadapan sejumlah awak media, Sekretaris Yayasan Xaverius Tanjung Karang Gizik Priambo, mengatakan, informasi tersebut baru diterima Yayasan pada hari Jumat tanggal 19 September 2025.
1. Pihak Yayasan menkonfirmasi ke sekolah, jadi di sekolah orang tua siswa itu emang melaporkan ke pihak sekolah pada hari Rabu tanggal 17 september 2025, dan pada saat ini, hari ini, sekolah juga sedang berusaha untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
2. Bahwa anak-anak itu pernah bermasalah, dan atas permasalahannya Sekolah telah melakukan pembinaan terhadap anak-anak tersebut.
3. Perlu dipahami bersama, bahwa kejadian yang terjadi ini dilakukan oleh anak-anak di luar jam pelajaran, dan juga di luar sekolah.
Baca Juga: Siswa Smp Xaverius 1 Wakili Lampung Di Olimpiade Metematika Internasional
4. Anak-anak yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, saat ini sudah baik-baik saja, dan mereka tidak ada dendam di antara mereka.
Sudah Dua Siswa Menjadi Korban R
Saat ditanya awak media tanggapannya terkait informasi bahwa sudah dua korban dari Siswa R, yaitu LD dan juga LR, satu kasusnya AI, dan satu lagi mengenai perkelahian, juga telah dilaporkannya siswa tersebut ke Polresta Bandar Lampung, pihak Yayasan menjelaskan, dari pelaku ada dua korban LD dan LR yaitu kasus AI dan penganiayaan.
Berkaitan dengan pelaku ini untuk yang kedua korban ini sebenarnya sudah berdamai, artinya untuk yang pertama itu kita sudah berdamai, dan yang kedua ini memang sekolah juga berusaha untuk memediasi. Jadi ini dua kasus yang berbeda.
Berkaitan dengan adanya pelaporan di Polresta secara resmi kami baik dari Yayasan maupun sekolah itu belum tahu, artinya seperti apa laporannya kami sampai hari ini juga belum tahu.
Penyalahgunaan AI dan Penganiayaan Semua Sudah Berdamai, Semua Sudah Selesai
Pada konpers itu, Kepala Sekolah SMP Xaverius 2 Bandarlampung, Sisilia surasi Andriyani, juga menambahkan
permasalahan AI dan penganiayaan itu sudah berdamai.
“Untuk yang AI dan Penganiayaan itu, maaf, semua sudah berdamai, semua sudah selesai, dan semua sudah kembali bersahabat, dan betul-betul kembali untuk anak-anak berproses berjuang di tempat kami, begitu, jadi sudah selesai,” ungkapnya.
Saat ditanya terkait siswa yang diduga dikeluarkan secara sepihak oleh sekolah, Kepsek menjelaskan, bahwa tidak dikeluarkan, tetapi dikembalikan ke orang tuanya.
Namun apakah siswa tersebut tidak jadi dikeluarkan, ia menjawab jika telah berkoordinasi dengan yayasan, dan semua keputusan ada di Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung.
“Untuk yang itu (AI), kan kami tidak mengeluarkan dalam berita acara kami adalah mengembalikan ke orang tua, karena prosesnya seperti itu mengembalikan ke orang tua. Kemudian tahapannya kan setelah dari yayasan, kami akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan, karena memang seperti itu harusnya, dari sekolah ke yayasan, kemudian sebetulnya hari ini saya akan ke dinas pendidikan, tetapi kami hari ini akan menyelesaikan yang ini dulu (perkelahian). Besok saya akan ke dinas pendidikan untuk berkoordinasi dengan dinas pendidikan, bagaimana kami terus untuk mengakomodir anak-anak kami semuanya,”. Jelasnya.
Guru SMP Xaverius Terus Lakukan Pendampingan Siswa yang dikembalikan ke orang tuanya terkait persoalan AI
Kepala Sekolah SMP Xaverius 2 Bandarlampung, Sisilia surasi Andriyani, menerangkan jika sampai ini saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan orang tuanya, dan melakukan pendampingan.
“Sampaikan saat ini kami masih terus berkoordinasi dengan orang tua, untuk kami sembuhkan dulu luka-lukanya, karena pastikan perlu untuk anak ini menenangkan diri dulu, kemudian kami dampingi, kami masih tetap berhubungan dengan orang tua, begitu jadi besok pun tetap akan ada yang ke rumahnya untuk mendampingi, kami terus mendampingi karena memang seperti itulah esensi pendidikan itu, karena anak terluka, anak sedang bermasalah mari kita dampingi, masih tetap kami dampingi,” jelasnya.
Saat ditanya apakah ada kemungkinan siswa tersebut bisa kembali bersekolah lagi, Sisil mengatakan, masih menunggu keputusan dari Dinas Pendidikan.
“Saya harus ke dinas dulu, bagaimana dinas nanti itu yang saya jalankan, Saya kan punya bapak dinas, jadi harus ke sana dulu, jadi itu kewenangan dari dinas, jadi kami menunggu dari dinas,” ujarnya.
Tanggapan Yayasan Terkait 7 Siswa Dilaporkan Ke Polresta atas Dugaan Perundungan
Terkait adanya informasi bahwa orang tua korban perkelahian, melaporkan 7 siswa yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut, Sekretaris Yayasan Xaverius Tanjung Karang Gizik Priambo, mengatakan, jika pihaknya baru mendapatkan kabar.
Bahkan ia juga baru mengetahui dari awak media yang hadir, bahwa terdapat 7 siswa yang dilaporkan atas dugaan perundungan.
“Berkaitan dengan anak-anak kita yang dilaporkan, jadi memang dari pihak sekolah tadi kami juga berkoordinasi artinya sudah berusaha untuk memediasi antara anak-anak, artinya bagaimana anak itu sendiri. Terkait laporan itu sendiri ya kami lihat seperti apa sekolah, yayasan bisa membantu seperti apa mungkin seperti itu,”terangnya.
“Seperti apa laporannya kami belum tahu ya tapi yang jelas seperti apa, ketika itu berkaitan dengan anak kami ya pasti akan mengusahakan yang terbaiklah, untuk anak-anak kita, karena kami baru tahu ternyata ada tujuh, laporan dibuat hari Sabtu sore, yang dilaporkan ke tujuh anak yang ada di video yang diduga melakukan persekusi itu ya,” tambahnya
Sanksi Siswa yang Bersalah
Dari awak media yang hadir menanyakan sanksi kepada siswa yang terbukti bersalah. Pihak yayasan menjawab, jika sanksi akan diberikan.
“Sanksi pasti, karena kan kita berusaha bagaimana membina semua anak kita, tinggal bagaimana sangsinya kita lihat juga nanti kembali seperti apa, yang jelas kita memgusahakan yang terbaik untuk pendampingan anak kita, semuanya ya kita usahakan yang terbaik,” tegasnya.
Kejadian Penganiayaan 1 Agustus, di Luar Jam, dan Lingkungan Sekolah
Dalam konpers tersebut, terkait masalah penganiayaan atau perundungan, Kepala Sekolah SMP Xaverius 2 Pahoman menceritakan, jika waktu kejadian tanggal 1 Agustus, dan sekolah baru mengetahui dari orang tua korban pada Rabu 17 September 2025.
“Kalau video kami baru tau hari Jumat, sedangkan kalau kami konfirmasi ke sekolah ternyata orang tua baru melaporkan ke sekolah baru hari Rabu di tanggal 17 September kemarin. Kejadiannya di luar sekolah. Jadi 1 Agustus terjadinya saya cek apakah 1 Agustus Hari Jumat benar, karena dia pakai baju masih Pramuka, tetapi memang kejadiannya itu sudah di luar jam pelajaran dan di luar sekolah. Kemudian ada pelaporan dari siswa baru tanggal 17 september kemarin,”.
Himbauan Untuk Orang Tua
Pada konpers yang berlangsung di ST Albertus Pahoman, Sekretaris Yayasan Xaverius Tanjung Karang Gizik Priambo, dihadapan awak media, memberikan himbauan kepada orang tua, untuk sama-sama mendampingi anak.
“Kita ini sama-sama mendampingi anak ya, prinsipnya itu bagaimana kita itu membina anak-anak kita, mendampingi anak kita, bagaimana sekolah itu juga tidak bisa berdiri sendiri, disitu peran orang tua juga sangat penting untuk perkembangan anak-anak kita,”tutupnya.
Perlu diketahui, dalam beberapa hari ini SMP Xaverius 2 Pahoman Bandar Lampung, mendapat dua persoalan negatif, satu terkait siswa yang diduga dikeluarkan sekolah secara sepihak, lantaran diduga menyalahgunakan teknologi AI (Artificial Intelligence), dan yang kedua terkait video viral perundungan siswa. (Ih).






