Cegah Kecelakaan, PT. KAI Divre IV Tanjung Karang Sosialisasi Keselamatan Di Perlintasan KA Hayam Wuruk

237

BANDARLAMPUNG, SS — Mengingat masih adanya kecelakaan yang menelan korban jiwa di perlintasan rel kereta api di Divre IV Tanjung Karang menimbulkan keprihatinan. Minimnya kewaspadaan masyarakat kerap menjadi pemicu, ditambah tidak adanya pengaman karena bukan perlintasan kereta api resmi.

Hal itu mendasari gerakan sosialisasi keselamatan dan keamanan perjalanan kereta api dan berlalu lintas yang digelar oleh PT Kereta Api Indonesia Divre IV Tanjung Karang bekerja sama dengan Railfans Baradipta, Minggu (29/7).

Ini mengingat bahwa tanggung jawab penanganan keselamatan di perlintasan sebidang bukanlah dominan bagi institusi yang menangani perkeretaapian saja, tetapi juga semua pihak lain yang sudah diatur dalam perundang-undangan.

Berkaitan dengan hal ini perlunya semua aparat yang terkait memahami Undang-undang Perkeretapian berikut PP tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian dan PP tentang Perlintasan Sebidang maupun UU LLAJ. Itu semua menjadi dasar untuk bersinergi mulai dari kegiatan sosialisasi, pengamanan (pencegahan) maupun penanganan kecelakaan di perlintasan kereta api.

Sosialisasi digelar dengan aksi membentangkan spanduk berisi tulisan ajakan dan imbauan mematuhi aturan berlalu lintas saat melintasi rel kereta api yang sebidang dengan badan jalan serta mengatur arus lalu lintas kendaraan, pembagian brosur, dan juga pembagian PIN keselamatan.

Manager Humas Divre IV Tanjung Karang, Sapto Hartoyo mengatakan, pihaknya merasa perlu melakukan sosialisasi keselamatan berlalu lintas di perlintasan Urip Sumoharjo di Km 14+850 kota Bandar Lampung.

“Pada dasarnya sosialisasi yang dilakukan ini lebih pada himbauan pada masyarakat pengguna jalan raya yang akan melintasi pintu perlintasan agar lebih waspada dan berhati-hati,” ujarnya.

Menurut Sapto, salah satu penyebab kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa adalah lalainya masyarakat memperhatikan perlintasan rel kereta api.

“Pengendara tidak tengok kanan-kiri serta masih adanya pengendara yang menerobos perlintasan walaupun jelas-jelas sudah ditutup. Kewaspadaannya kurang,” ucapnya.

Apalagi, jika akan menyeberang di perlintasan sebidang di pintu perlintasan tidak resmi. Artinya pintu perlintasan yang tidak ada kelengkapan pengaman seperti perlintasan resmi. Misalnya, tidak ada alarm, palang pintu otomatis, pengatur perlintasan, dan lain-lain.

“Maka di sini perlu kewaspadaan dan kehati-hatian karena menyangkut perjalanan kereta api dan perlintasan kendaraan,” tuturnya.

Relawan yang turun melakukan sosialisasi lebih dari 20 orang, mereka melakukan imbauan dan sosialisasi selama 2 jam mulai dari pukul 10.00 sampai 12.00 WIB. Sedikitnya akan dilakukan sosialisasi 2 kali di lokasi yang sama.

“Perlintasan kereta api lain juga menjadi perhatian kami. Setelah di perlintasan Urip Sumoharjo ini, nanti kami bergerak di wilayah Divre IV lainnya. Mudah-mudahan masyarakat bisa timbul kesadarannya untuk lebih berhati-hati,” pungkasnya(*)

Komentar