Pesparani Kota Ambon, Provinsi Lampung Boyong Dua Emas

444
Paduan Suara Asal Lampung meraih dua emas dalam ajang Pesparani I, yang diselenggarakan di Ambon, Maluku, 26 Oktober hingga 2 November 2018.

BANDAR LAMPUNG — Prestasi membanggakan diraih oleh paduan suara asal Provinsi Lampung pada Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) I Nasional, yang diselenggarakan di Kota Ambon, Maluku pada 26 Oktober hingga 2 November 2018.

Paduan suara asal bumi ruwa Jurai tersebut berhasil memboyong dua emas dari kategori mazmur remaja dan paduan suara dewasa gregorian.

Ketua kontingen Keuskupan Tanjung Karang Provinsi Lampung, Petrus Sugondo mengatakan capaian ini tidak lepas dari dukungan masyarakat Lampung.

“Kami berlatih semaksimal mungkin, dan akhirnya berkat doa dan dukungan seluruh masyarakat, kami mendapatkan dua mendali emas, 3 mendali perak dan satu mendali perunggu,” kata Petrus saat ditemui di Bandara Raden Inten II, Lampung Selatan, beberapa hari lalu.

Ketua Umum Pesparani Hartarto Lojaya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perolehan emas dan mendali lainnya yang diterima kontingen Keuskupan Tanjungkarang Provinsi Lampung.

“Terima kasih atas kerjasama dan dukungan semua pihak, serta doa-doanya. Juga pada warga masyarakat di Provinsi Lampung pada umumnya dan umat Katolik pada khususnya,” jelas Hartarto, Jumat (9/11).

Kedepan, Hartarto berharap Pesparani menjadi sarana untuk terciptanya persaudaraan dan perdamaian antar umat manusia tanpa memandang perbedaan.

“Di tahun mendatang, sungguh mampu membuat misi kemanusiaan lewat nyanyian dan mazmur kita, bisa mempersatukan, mendamaikan, membawa suasana hidup sesama yang penuh kebersamaan, damai dan sejahtera,” pungkas Ketua Umum Pesparani kontingen Keuskupan Tanjungkarang Provinsi Lampung ini.

Pada tempat berbeda, Ketua Umum Pesparani kontingen Keuskupan Tanjungkarang Provinsi Lampung, T. Purnomo, mengungkapkan kegagumannya atas suasana kekeluargaan dan kerukunan di Kota Ambon.

“Di situ terasa sekali suasana persaudaraan sejati, bahkan itu sungguh-sungguh dirasakan, dari atas elitenya sampai dengan di bawah masyarakat biasa,” ungkapnya.

Ketua Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, RD Philipus Suroyo memberikan selamat atas capaian yang diperoleh kontingen Pesparani Keukuspan Tanjungkarang Provinsi Lampung.

Tapi yang terpenting bagi Romo Roy, peserta Pesparani dapat membawa semangat persaudaraan di tempatnya asalnya masing-masing.

“Sang juara sejati itu adalah mereka yang setelah pulang dari sana itu sanggup mengimplementasikan spirit yang hendak dibawa oleh Pesparani Nasional pertama yang diadakan di Maluku,” katanya singkat.

Pesan Uskup Keuskupan Amboina Mgr. PC Mandagi MSC saat misa penutupan
Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. Petrus Casianus Mandagi MSC dalam kotbahnya pada misa penutupan acara mengungkapkan bahwa Pesparani merupakan ungkapan iman akan Allah.
“Lewat mazmur dan lagu pujian yang bagus sekali kita mengungkapkan iman akan Allah,” tegasnya.

Menurutnya, Pesprani adalah pesta iman mengandung tugas perutusan.
“Kita semua akan pulang dan diutus untuk memberi kesaksian tentang iman lewat kata dan perbuatan.Hidup yang selaras dengan imannya.

Konkretnya, sebagai orang beriman hidup dengan bersikap lembut dan bukan kasar atau keras. Bertindak benar dan tidak bohong, sombong, serta munafik,” kata Mgr Mandagi.

“Hidup suci seperti orang kudus yang dirayakan hari ini dan tidak kotor, korupsi. Juga seperti Yesus yang hidup hanya menggantungkan sepenuhnya pada kuasa Allah dan bukan menggantungkan pada jabatan, uang, kekuasaan,dan kesenangan duniawi,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional I Kota Ambon, Maluku berlangsung pada tanggal 26 Oktober hingga 2 November 2018. Kegiatan ini diikuti sekitar 8.000 peserta dan undangan dari 34 provinsi di Indonesia. (*)

Komentar