Ahmad Handoko Minta SP3 Kasus Politisi Gerindra Darussalam, Karena Tidak Bersalah

99

BANDARLAMPUNG — Penasehat hukum Ahmad Handoko meminta kepada Polresta Bandarlampung SP3 Kasus Politisi Partai Gerindra Darussalam.

Hal itu dilakukan lantaran bahwa selama ini kliennya tersebut tidak bersalah.

Kliennya, Darusalam ditetapkan sebagai tersangka karena menurut penyidik pada tahun 2014 Darusalam mengenalkan tersangka Syaleh kepada pelapor Nuryadin untuk meminjam uang sebesar Rp500 juta.

“Uang sampai saat ini tidak dikembalikan oleh Syaleh. Uang itu diperuntukkan untuk pembuatan seporadik dan diikat dengan perjanjian kerjasama dengan keuntungan Rp2,4 milyar untuk Nuryadin,” kata Handoko, di Bandarlampung, Rabu (14/10/2020).

Dia melanjutkan, namun menurut penyidik seporadik sudah ada sejak tahun 2006 sehingga penyidik berkesimpulan Darusalam mengetahui sudah ada seporadik sejak tahun 2006.

Atas dalil sangkaan tersebut, dirinya telah menghadirkan empat orang saksi fakta salah satunya Anton, seorang Lurah yang menandatangai seporadik yang tertera tahun 2006.

“Ternyata ditandatangani tahun 2014 setelah Syaleh dapat pinjaman uang Rp500 juta dari pelapor,” kata dia.

Handoko menambahkan, kemudian tiga saksi lainnya adalah saksi fakta yang mengetahui seporadik yang tertera tahun 2006, bahwa seporadik yang dibuat tahun 2014 setelah saleh dapat pinjaman dari pelapor.

“Untuk dua orang ahli yang kami hadirkan mengatakan bahwa Darusalam tidak dapat dikenakan pasal 372 dan 378 KUHP. Oleh karena itu dalil penetapan tersangka kepada Darusalam telah dapat kami bantah dengan alat bukti sehingga sudah tidak relevan lagi atau tidak ada landasan yuridis lagi atau penetapan tersangka tidak memiliki bukti sebagimana pasal 184 KUHAP dan sudah selayaknya dibatalkan oleh penyidik,” kata dia.

Handoko juga menambahkan, kemudian tiga saksi fakta yang dihadirkan adalah saksi yang mengetahui dengan pasti bahwasanya seporadik oleh Anton memang dibuat tahun 2014.

Setelah Syaleh mendapat uang dari Nuryadin, dan setelah Syaleh menemuinya, Syaleh meminta dibuatkan seporadik yang tertera tahun 2006, jadi kesimpulanya memang benar pada saat Darusalam mengenalkan Syaleh ke Nuryadin tahun 2014 memang belum ada seporadik. (*)

Komentar