Unila Kembali Kehilangan Guru Besar

636

BANDARLAMPUNG — KABAR duka datang dari keluarga besar Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung Rilda Murniati atas wafatnya ayahanda Profesor Abdulkadir Muhammad, di usia 80 tahun.

Lelaki kelahiran 16 Agustus 1937 di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan ini meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit di Bandarlampung, beberapa waktu lalu.

Mantan Dosen Hukum Perdata dan Hukum Dagang Fakultas Hukum Unila ini mengembuskan napas terakhir pada Rabu, 14 Februari 2018, sekitar pukul 09.10 WIB.

Banyak karya bakti Abdulkadir semasa mengabdi di Universitas Lampung. Di antaranya menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Unila selama dua periode, yaitu 1972-1974 dan 1982-1985; anggota Tim Inti Program Akta V (Applied Approach) Unila, dan anggota Dewan Penyunting Penerbit Unila.

Hingga jabatan akademik tertinggi Abdulkadir Muhammad didapuk sebagai Guru Besar Hukum Perusahaan pada Fakultas Hukum Unila dan Guru Besar Hukum dan Lembaga Keuangan, Hak Kekayaan Intelektual, dan Hukum Dagang Internasional pada Program Magister Hukum Program Pascasarjanan Universitas Lampung.

Jenazah Abdul Kadir saat ini masih disemayamkan di rumah duka, Jalan Cengkeh, Kelurahan Gedongmeneng, Rajabasa. Rencananya, jenazah akan dikebumikan sore hari, usai waktu salat ashar.

“Kita semua menganggap beliau (Prof. Kadir) itu sebagai guru. Waktu itu, saya jadi dosen tahun 1980-an, beliau sudah jadi Dekan FH Unila,” kata DR. Eddy Rifai, tenaga pengajar FH Unila, Rabu (14/2)

Menurut Eddy, Prof. Kadir membimbing seorang mahasiswa layaknya seorang guru dan tidak pernah marah ketika menemukan kesalahan dalam sebuah karya ilmiah atau skripsi.

“Contohnya kita buat karya ilmiah, kalau ada kesalahan, bukan dicoret-coret saja, tetapi beliau mau susah payah untuk memperbaiki karya ilmiah mahasiswa yang dibimbingnya,” ujarnya.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada ini juga dikenal lebih mengutamakan kerapihan. Dia tidak segan-segan menegur seorang mahasiswa yang terlihat tidak rapi dalam berpakaian.

“Beliau orangnya harus rapi dan perfeksionis, tapi perfeksionisnya lebih memberikan solusi. Beliau juga idealis dan kreatif. Sudah 20-an buku tentang hukum perdata dibuatnya,” tambah Eddy.

Senada dengan Eddy, dosen Hukum Perdata FH Unila DR. Amir Hamzah mengaku sangat kehilangan sosok Prof. Kadir yang dikenalnya sebagai tenaga pendidik dengan kreativitas luar biasa.

“Buku beliau itu cukup banyak, 20-an lebih buku tentang Hukum Acara Perdata sudah dibuatnya. Dan bukunya beredar sampai ke Leiden, Belanda dan Australia. Bukunya juga banyak dipakai kantor-kantor hukum,” terangnya.

Selain dikenal kreatif, lanjut Hamzah, Prof. Kadir merupakan orang tua sekaligus guru untuk semua mahasiswa dan dosen. Sang profesor juga sangat peduli dengan kerapihan seorang mahasiswa.

“Kalau ada mahasiswi yang rambutnya tidak dikepang, maka beliau tidak sungkan untuk menegur agar mahasiswi tersebut segera mengepang rambutnya,” tandasnya. (RD).

Komentar