Eko Prasetyo Ajak Gelorakan Budaya Membaca Di Keluarga dan Di Masyarakat

430

WAYKANAN — Menggelorakan budaya baca di masyarakat secara terus menerus bukanlah perkara yang mudah.

Selain membutuhkan semangat kerelawanan, juga perlu dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak agar tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang literat dapat tercapai.

Demikian diungkapkan tokoh literasi Way Kanan Eko Prasetyo di kediammnya, Minggu (20/10).

Menurut Eko, mayoritas masyarakat di Way Kanan sebenarnya sudah bisa membaca. Namun bukan membaca dalam konteks edukasi.

“Hampir semua masyarakat kita sebenarnya sudah mampu membaca. Coba saja tengok seberapa banyak orang yang mengakses internet, pasti banyak yang menggunakan WA, Facebook dan lain-lain. Pasti banyak sekali. Tapi coba lihat seberapa banyak orang yang membaca bahan bacaan yang bersumber dari sebuah buku. Anomali seperti itulah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini” papar Eko.

Eko juga menyampaikan bahwa budaya membaca harus lebih sering gaungkan oleh perpustakaan, kelompok komunitas dan pemerintah melalui gerakan literasi aktif ke masyarakat.

“Pada dasarnya, lingkup literasi itu ada di sekolah, masyarakat dan keluarga. Di lingkup itulah sasaran literasi mesti di galakkan oleh perpustakaan-perpustakaan baik itu perpustakaan desa, perpustakaan komunitas ataupun perpustakaan milik pemerintah.”imbuh Eko.

Seperti diketahui Eko Prasetyo merupakan penggerak literasi yang seringkali membawa harun nama Way Kanan dikancah luar daerah.

Selain pernah menjadi juara 1 pengelola taman baca se-Lampung, juga menjadi nominasi 10 terbaik tingkat nasional.

Memperoleh penghargaan Astra Award kategori pejuang pendidikan dari PT.Astra Tbk. Atas dedikasinya menyebarkan ilmu pengetahuan melalui buku-buku perpustakaan keliling, Perpusnas RI juga mengapresiasi dengan memberikan sebuah sepeda motor.

Bahkan saat ini dikampung halamannya di kampung Umpu Kencana, sukses membawa kampungnya menjadi kampung percontohan oleh Kementerian Desa Transmigrasi Daerah Tertinggal Republik Indonesia sebagai Desa Literasi. (Fpii Waykanan)

Komentar